Sunday, 1 September 2013

Tindaklanjuti Tawaran 10 Kapal Selam, TNI AL Kirim Tim Ke Rusia


* Minsera.Blogspot.comTNI sangat serius dalam melakukan penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.
 
Setelah TNI AD membeli MBT Leopard 2A6 dan helikopter serang Apache, TNI AU membentuk satu skuadron Sukhoi dan F-16, kali ini TNI AL bakal memperkuat armadanya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pemerintah Republik Indonesia (RI) mendapat tawaran dari Rusia berupa bantuan 10 kapal selam. Saat ini, TNI AL hanya memiliki dua kapal selam yang terbilang berumur. Hingga tiga tahun ke depan, TNI AL bakal kedatangan tiga kapal selam baru hasil kerja sama dengan Korea Selatan.

Untuk mempercepat pencapain kekuatan pokok minimum (MEF), Purnomo tertarik untuk bekerja sama dengan pemerintahan yang dipimpin Vladimir Putin itu. Meski begitu, Purnomo tidak merinci apakah kapal selam yang ditawarkan itu berbentuk hibah atau pembelian baru. 

Terkait spesifikasi juga ia mengaku kurang tahu lantaran baru tawaran awal dan perlu dilakukan kajian mendalam. Yang pasti, kata dia, kapal selam yang dijajakan ke Indonesia relatif baru. 

“Kami akan kirim tim ke Rusia, terdiri Kemenhan, Mabes TNI, dan TNI AU untuk tahu lebih lanjut. Pak Marsetio (KSAL) pimpinan delegasinya,” kata Purnomo usai peluncuran buku ‘Komunikasi Dalam Kinerja Intelijen Keamanan’ di Jakarta, Jumat (31/8) malam.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Marsetio mengakui bakal berkunjung ke Rusia untuk melihat langsung galangan tempat bersandarnya kapal selam. Hal itu dilakukan agar kapal selam yang dibeli cocok dengan kondisi perairan Indonesia. Ia belum bisa menjelaskan secara detail lantaran belum melihat langsung barangnya. 

“Yang Rusia belum. Harus disesuaikan dengan geografis Indonesia, apakah termasuk kapal selam samudera atau kapal selam kelas negara archipelago? Idealnya kapal selam kita memiliki kekhususan dan kekhasan dengan melihat kedalaman dan kontur laut,” ujar Marsetio.

Sumber: 
Republika



Tuesday, 27 August 2013

Timor Leste Menyesal Merdeka dari Indonesia !



* Minsera.Blogspot.com *
 Psikolog politik dari Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk mengatakan berbagai konflik politik yang terus-menerus terjadi di Negara Timor Leste menunjukkan bahwa untuk mendirikan sebuah negara itu tidak mudah.
"Setelah keluar dari Indonesia, hingga kini elit Timor Leste terus saja berseteru untuk berbagai hal. Secara psikologi politik, ini menunjukkan bahwa membentuk suatu negara itu tidak mudah. Bahkan dari berbagai pernyataan elit Timor Leste, terlihat rasa penyesalan setelah berpisah dengan Indonesia," kata Hamdi Muluk, di gedung DPR, Senayan Jakarta, Senin (26/8).
Mereka lanjut Hamdi, baru saat ini sadar kalau membikin suatu rumah besar itu ternyata sulit. Beda saat mereka masih di NKRI. Menurut Hamdi, semuanya disediakan.
Beda halnya dengan proses terbentuknya NKRI. Menurut Hamdi, NKRI ini ada karena keinginan dari seluruh nusantara untuk bersatu dalam satu kesatuan yang kita kenal NKRI melalui Sumpah Pemuda pada  tanggal 28 Oktober 1928.
"Bahwa ada penyelenggara NKRI yang terindikasi korupsi dan mengelola negara tidak berpedoman kepada konstituasi, itu soal lain lagi. Ibarat organisasi, itu yang bermasalah pengurusnya, bukan organisasinya. Pengurus bisa saja diganti berdasarkan konsensus nasional. Tapi yang namanya NKRI harus tetap berdiri tegak karena Sumpah Pemuda itu," ungkap Hamdi Muluk.
Dia yakin dan optimis Indonesia utuh sampai kapan pun karena motivasi mendirikan NKRI didasari atas satu kesadaran, bukan paksaan. "Problem kita sekarang kan pengurusnya yang tidak kapabel. Ini saja mestinya yang dibenahi. Jangan rumahnya yang dibakar," harap Profesor Hamdi Mulu.

Tidak Ada Perlombaan Senjata di ASEAN


* Minsera.Blogspot.comNiat Indonesia untuk memiliki satu skuadron helikopter Apache dari Amerika Serikat (AS), bukan sebuah tanda adanya perlombaan senjata di ASEAN. Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Menurut Purnomo, ASEAN tidak membutuhkan senjata. Sebagai sebuah komunitas, ASEAN sangat menyatu antara satu dengan lainnya.

"Mengenai perlombaan senjata, saya tidak percaya itu ada di antara negara anggota ASEAN. ASEAN benar-benar menyatu dan kami terus saling bertukar pikiran dalam ASEAN Defence Minister," tutur Menhan Purnomo, di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Senin (26/8/2013).


Mengenai rencana Indonesia untuk memoderenisasi senjatanya, hal ini bukan berarti bahwa Indonesia bersiap untuk melawan negara ASEAN lainnya.

"Jika Anda melihat Singapura, Malaysia dan Thailand dan sebagian negara ASEAN lainnya mengalami peningkatan ekonomi. Sebagian dari dana mereka, disisihkan untuk memoderenisasi militer mereka," lanjutnya.

Menurut menhan memoderenisasi militer bukan berarti perlombaan senjata. Militer bukan berarti digunakan untuk perang, tetapi juga selain perang seperti bantuan saat bencana.

Selain itu, Menhan Purnomo menjelaskan bahwa ASEAN memiliki piagam yang menyebutkan bila salah satu negara anggota memiliki masalah dengan negara anggota lain, maka diupayakan ASEAN Spirit.


Bagi Purnomo, ASEAN Spirit adalah duduk, berbicara dan memecahkan permasalahan. Hal tersebut dapat dicontohkan dalam masalah perbatasan antara Kamboja dan Thailand. 

Sumber: 
http://www.okezone.com/

AH-64E Apache Block III RI Akan Tiba Mulai Oktober 2014


* Minsera.Blogspot.comKesepakatan penjualan senjata disampaikan pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (26/8). "Kami sedang merinci lebih lanjut pengiriman dan waktu pelatihannya dari sekarang".


Selasa, 27-08-2013
Kementerian Pertahanan menegaskan pembelian delapan unit helikopter serang Apache AH-64E berjalan dengan lancar. Kementerian juga meyakinkan bahwa pembelian helikopter serang ini tidak ada intervensi dari negara penjual, Amerika Serikat, dalam penggunaannya kelak. 

"Tidak ada, dalam kebijakan kami membeli alutsista tidak boleh ada syarat pendektean penggunaan," kata Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin kepada wartawan saat ditemui usai menerima Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Charles Hagel, di Jakarta, Senin, 26 Agustus 2013. 

Begitu pula pengakuan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro. Menurut dia, dalam nota perjanjian pembelian yang dia tandatangani tidak ada paksaan Amerika Serikat dalam penggunaan Apache. 

Dia pun berjanji tak ada materi serupa dalam detil kontrak yang bakal disusun secepatnya. Sayang, Purnomo tak mau menyebutkan isi klausul kontrak yang akan diajukan Indonesia. "Yang jelas dalam kontrak itu ada klausul waktu pembayaran dan pengiriman." 

Selain itu, Purnomo juga menyebut pembelian helikopter serang Apache satu paket dengan pelatihan pilot. Sejumlah penerbang helikopter TNI Angkatan Darat nantinya akan dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti serangkaian pelatihan menerbangkan Apache. 

Dalam pembelian ini, dia melanjutkan, Indonesia juga akan menerima sejumlah senjata yang bisa dipasangkan ke Apache. "Detil senjatanya pihak TNI AD yang tahu," kata Purnomo. 

Mengenai besaran harga pembelian delapan unit helikopter Apache, baik Purnomo dan Sjafrie tutup mulut. Wakil Menteri Sjafrie Sjamsoeddin hanya menyebut pembelian menggunakan duit negara melalui mekanisme peminjaman. "Nanti efektif proses pengirimannya Oktober 2014," kata Sjafrie. 

Sebelumnya, pengamat militer Rizal Dharma Putra menyebut ada beberapa resiko membeli alutsista milik Amerika Serikat. Resiko itu mulai dari embargo suku cadang dan senjata, hingga intervensi penggunaan alutsista.

Amerika Serikat melarang penggunaan alat perang mereka untuk operasi militer lokal. Sebagai contoh pesawat OV-10 Bronco Indonesia yang merupakan hibah dari Amerika Serikat tak boleh digunakan dalam operasi militer di Aceh beberapa tahun lalu.

Sumber: 
Kontan

Independence Day Run


* Minsera.Blogspot.comDalam acara Independence Day Run (25/8) juga terdapat pasukan "Tough Warriors" yang berlari dengan rute 17 Kilometer. Mereka masing-masing berlari mengenakan pakaian dinas lapangan lengkap dengan membawa tas ransel seberat 17 kilogram. Pasukan "Tough Warriors" dipimpin oleh putra sulung Presiden SBY, Mayor Infanteri Agus Harimurti Yudhoyono, yang kemudian pada saat finish secara simbolis menyerahkan bendera Merah Putih kepada Presiden SBY.


Sumber: 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=559577640774848&set=a.532904866775459.1073741828.512463078819638&type=1&theater

Opini Sesat Pejuang OPM Manfaatkan Kunjungan Delegasi MSG


* Minsera.Blogspot.comPresiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (12/8) di Istana Bogor, menerima kunjungan Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Gordon Darcy Lilo. Dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, PM Lilo menyampaikan apresiasinya atas apa yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia terhadap Papua. Apresiasi positif itu lantaran PM Lilo sudah melihat sendiri berbagai kemajuan di Papua, ketika diberikan kesempatan mengunjungi provinsi tersebut oleh Pemerintah Indonesia.

Apresiasi positif Pemerintahan Kepulauan Solomon terkait kemajuan pembangunan di Papua ini, setidaknya membongkar kebohongan-kebohongan sempalan OPM di luar negeri dan dalam negeri. Mereka selama ini begitu gencar membuat opini-opini negatif terkait kondisi Papua. Kebohongan mereka ini bagian dari strategi untuk mendapatkan dukungan dan simpati internasional. Aksi tebar kebohongan ini juga bagian dari upaya untuk meng-cover aksi-aksi perlawanan bersenjata mereka di Papua.

Sebenarnya momentum kunjungan salah satu delegasi anggota MSG (Melanesian Spearhead Group) ke Indonesia untuk memantau secara langsung kondisi di Papua. Dengan kunjungan ini diharapkan adanya kesan negatif dari pemerintahan Solomon atas perlakuan Indonesia terhadap Papua. Celakanya yang terjadi malah sebaliknya, Pemerintahan Solomon melalui Perdana Menterinya melihat kenyataan yang berbeda. Indonesia dinilai begitu memperhatikan kondisi pembangunan di tanah Papua.

Berbagai macam pola dan strategi OPM merupakan ancaman bagi kedaulatan Indonesia. Ingat Papua tetap bagian dari Negara Kesatuan Indonesia, dunia internasional melalui lembaga PBB mengakuinya. Ketegasan diperlukan bagi mereka yang nyata-nyata merongrong kedaualatan negeri ini.

Sumber: Hati Nurani dan Kecintaan Masyarakat Papua Terhadap Ibu Pertiwi Indonesia

Monday, 26 August 2013

Ada Udang Di Balik Apache...? WHAT THE FU*K

* Minsera.Blogspot.comSeperti sudah bisa ditebak, kedatangan Menteri Pertahanan Amerika Serikat ke Indonesia membawa kabar baik. Seusai pertemuannya dengan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, diumumkan pula kesepakatan penjualan helikopter AH-64E Apache Guardian kepada Indonesia. Nilai penjualan pun melorot drastis menjadi 500 juta dollar, dari sebelumnnya 1,4 Milyar dollar sesuai pengumuman DSCA. Bahkan disebutkan pula, harga tersebut mencakup radar Longbow serta pelatihan.




Kehadiran Apache seri paling mutakhir ini tak pelak akan menambah kemampuan TNI-AD, 
khususnya Penerbangan TNI-AD. Sebelumnya, untuk tugas serang TNI-AD mengandalkan heli 
Mi-35P serta NBO-105. Kita patut berbangga hati dalam hal ini tentunya.

Namun demikian, ada sedikit hal yang agak janggal. Seperti dalam laporan Startribune, 
Indonesia disebutkan telah setuju berdiskusi untuk memperbolehkan Amerika Serikat
mencari jenazah prajurit AS yang gugur semasa Perang  Dunia ke-2, di perairan serta 
daratan Indonesia. Menurut penilaian ARC, hal ini agak janggal. Pasalnya AS belum
 pernah secara aktif mencari jasad prajuritnya yang gugur di perang Korea atau Vietnam.
 Jika pun mencari, itu atas desakan komunitas tentara AS.

Bukan tidak mungkin, 'pencarian' yang dilakukan di perairan dan 
daratan Indonesia justru digunakan untuk hal lain. Memetakan perairan
Indonesia untuk operasi kapal selam atau mendata pantai mana saja 
yang cocok untuk pendaratan amfibi misalnya. Lagi pula,
 kebanyakan prajurit AS bertempur di kawasan timur Indonesia.
Tak perlu lah kami sebutkan ada apa di Timur Indonesia.
Para pembaca yang budiman tentu sudah bisa menebaknya.
Akan tetapi, semoga saja itu semua tidak benar, dan Amerika 
memang jujur ingin mencari jasad prajuritnya. Seandainya pun disepakati,
 semoga saja perwira penghubung dari TNI bisa sigap dan mawas.
Di sisi lain, dalam pertemuan tadi juga disepakati, Indonesia dan Amerika
akan menjadi tuan rumah bersama untuk ADMM Plus, 
dalam kegiatan Counter Terrorism Exercise (CTX), yang akan berlangsung
 pada tanggal 9-13 September 2013 mendatang di Kawasan IPSC
 Sentul, Bogor. Latihan bersama yang melibatkan 18 negara ini adalah
 pertama yang pernah dilaksanakan di Kawasan Asia Pasifik. 
Menhan Purnomo Yusgiantoro berharap Menhan Chuck Hagel 
dapat hadir untuk menyaksikan latihan bersama ini


Sumber: 
http://arc.web.id/berita/552-ada-udang-di-balik-apache.html