Jumat, 23 Januari 2015

Raja Arab Saudi Abdullah Wafat


* Minsera.Blogspot.comRiyadh, - Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz menghembuskan nafasnya yang terakhir. Abdullah (90) tutup usia karena menderita pneumonia.

Dikutip dari aljazeera.com, Jumat (23/1/2015), Abudullah wafat setelah dirawat selama beberapa minggu di rumah sakit.

Putra Mahkota Salman bin Abdulaziz Al Saud (79) kini resmi Raja Saudi yang baru dan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz adalah putra mahkota baru.

"Yang Mulia Salman bin Abdulaziz Al Saud dan semua anggota keluarga dan bangsa meratapi Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdulaziz, yang meninggal tepat pukul 1 pagi pagi ini," kata televisi pemerintah Arab Saudi.

Kamis, 22 Januari 2015

Dana Pembelian Alutsista Belum Turun, Menhan Pun Curhat



* Minsera.Blogspot.comMenteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu mengeluhkan dana pembelian Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) yang sampai saat ini masih belum turun dari pemerintah pusat.


Menurut Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat tersebut, sampai saat ini pembelian Alutsista hanya menjadi wacana dan belum terealisasikan.

"Duitnya belum turun, baru ada rencana-rencana, baru kertas-kertas saja, jadi belum (dibeli)," tutur Ryamizard di Gedung KPK Jakarta, Kamis (22/1).

Padahal menurut Ryamizard, pembelian Alutsista sangat penting untuk menghadapi setiap ancaman dari negara asing yang mencoba memasuki wilayah perbatasan Indonesia.

"Jadi jelas, alutsista itu diadakan dan digunakan untuk menghadapi ancaman, itu ancaman, jadi tidak sembarang beli-beli-beli," tukasnya. Sumber: http://kabar24.bisnis.com/read/20150122/15/394231/dana-pembelian-alutsista-belum-turun-menhan-pun-curhat

Kenapa Gripen-NG adalah pilihan yang paling “Indonesia”

Grippen Instrument

* Minsera.Blogspot.com * Keuntungan pertama: Gripen dapat di-customize 100% menurut kebutuhan IndonesiaPesawat tempur import modern dewasa ini, baik F-16C/D atau Su-30MK2, biasanya memiliki daftar perlengkapan/persenjataan standard yang sudah ditentukan oleh negara penjual. Kelemahannya, pembeli tidak mungkin menambah pilihan lain yang tidak tercantum di dalam daftar si penjual.
Uni Arab Emirates (UAE) saat ini adalah satu-satunya pengguna F-16 Block-60, sub-tipe F-16 yang paling modern di dunia (lebih modern dari versi USAF). UAE bahkan membayar $3 milyar untuk development cost F-16 Block-60, dan sebagai upahnya, akan mendapat royalty kalau Block-60 ini terjual ke negara lain (belum terjual).
Konsep seperti ini mirip dengan KF-X, bukan? Apakah sudah menjadi skenario yang ideal ?
Saatnya berkenalan kembali dengan tehnik jitu FMS pemerintah US untuk mengontrol persenjataan/perlengkapan negara client.
Untuk menghadapi Iran, UAE menginginkan stealth cruise missile jarak yang jangkauannya mencapai 300 km untuk dipasangkan ke F-16 mereka. F-16 USAF tentu saja dapat membawa senjata semacam ini – AGM-158 JASSM stealth cruise missile. Tapi pemerintah US tidak mengijinkan penjualan senjata ini ke semua negara Timur Tengah.
UAE kemudian melirik MBDA Storm Shadow sebagai pilihan kedua untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka tetap membentur tembok! Pemerintah US juga tidak mengijinkan perubahan source-code untuk F-16 Block-60 UAE yang memungkinkannya membawa Storm Shadow. Solusi UAE untuk menghadapi masalah ini: mereka memasang MBDA Storm Shadow (versi mereka: Black Shaheen cruise missile) ke Mirage 2000-9 mereka.
Tragedi UAE ini pasti akan terulang dalam KF-X versi Indonesia atau F-16 Block-62.
Tidak seperti UAE, Indonesia tidak akan mempunyai dompet yang cukup tebal untuk membayar harganya.
Di sinilah kunci keunggulan Gripen Negara pembeli mempunyai kebebasan penuh untuk menentukan sendiri apa yang dibutuhkan untuk Gripen mereka.
Gripen-NG di Brazil memberikan contoh yang baik. Kalau melihat diagram breakdown dari Gripen Brazil, local content sudah cukup banyak. Versi Brazil juga akan memasangkan sistem aerial network buatan sendiri, dan mengintegrasikan missile A-Darter (hasil kerjasama Brazil – Afrika Selatan). Hasilnya, Gripen untuk Brazil sudah akan berbeda dibandingkan milik Swedia. Sepuluh tahun di masa depan, perbedaan perlengkapan antara Gripen Brazil dan Swedia akan semakin membesar, tergantung pilihan masing-masing.
Gripen untuk Indonesia tentu saja juga berpotensi menuju ke arah yang sama. SAAB akan mentransfer source code Gripen (contoh: Brazil) sebagai bagian dari 100% ToT.
Penguasaan Source Code di Gripen memberikan kebebasan untuk Indonesia memilih senjata. Ini akan menjadi deterrent effect tersendiri, dan mendorong kreativitas pemakai.
Misalnya, untuk BVR combat, versi Indonesia dapat membawa tidak hanya Meteor, tapi juga R-77T (infra-red) dan R-77-1 buatan Russia. Kombinasi seperti ini sudah akan menjadi mimpi buruk untuk latihan pilot untuk RAAF Australia dan RSAF Singapore. Sekarang mereka harus berlatih untuk menghadapi 3 macam sub-variant missile yg berbeda, dari negara pembuat yang berlawanan satu sama lain.
Kalau mereka melihat Gripen Indonesia di radar, mereka juga harus menebak, sebenarnya Gripen ini akan membawa senjata yang mana ?.
Sebaliknya, untuk latihan BVR combat, pilot-pilot Indonesia hanya perlu berlatih untuk menghadapi AMRAAM C-7. Sebagai sarana pembantu, Gripen-E/F sudah membawa next-generation Gallium-Nitride jammer yang lebih unggul dibanding semua tipe lain. Keunggulan Jammer ini akan membantu menangkal kemampuan radar kecil di AMRAAM untuk “men-lock” Gripen.
Apapun yang diinginkan Indonesia, dapat disampaikan langsung ke SAAB, dan mereka akan mencoba mengakomodasi, dalam batasan platform Gripen.
Keuntungan kedua: 100% Transfer-of-Technology, dan kesempatan untuk partnership dalam pengembangan proyek Gripen-NG
Kita tidak akan pernah bisa berlari, kalau belum pernah belajar berjalan. Artikel Transfer-of-Technology, sudah membahas hal ini.
Pembelian Gripen akan memberikan kesempatan untuk Indonesia mulai belajar dari NOL. Inilah tempat terbaik untuk mulai terlebih dahulu mendalami tehnologi salah satu pesawat tempur paling modern dewasa ini. Tawaran 100% ToT dari SAAB, tentu saja juga akan membuka peluang yang besar untuk Indonesia dapat merakit Gripen sendiri di Bandung. Indonesia kemudian akan dapat mulai melihat dalam jangka menengah-panjang, seberapa banyak ”part” dalam Gripen yang akan menjadi ”made in Indonesia”.
Ini bukan berarti setelahnya, SAAB akan berpangku tangan, dan mendikte kita seperti kasus FMS pemerintah US. Pembelian Gripen-NG dari SAAB juga akan menjadi undangan untuk bergabung dalam proyek bersama untuk memajukan Gripen fighter system. Brazil sudah dinobatkan sebagai salah satu partner untuk Gripen-NG project, pertama-tama untuk produksi lokal mereka, tapi kemudian untuk semua “Gripen NG customers”. Indonesia juga akan lebih berpeluang mendapat tempat duduk yang sama.
Gripen-NG akan menjadi proyek bersama dari negara-negara yang non-blok / netral, bebas dari pengaruh industri-industri militer tradisional US, dan Russia. Kerjasama antara SAAB (Swedia), dan PT DI (Indonesia), dalam Gripen-NG akan berpeluang besar menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di dunia aviation.
Keuntungan Ketiga: Aerial Data Networking

Networking akan membagi satu gambaran yang sama untuk target (lawan), tanpa perlu mengandalkan kemampuan deteksi individual. Target mungkin dideteksi oleh radar di darat, dari kapal, pesawat AEW&C, atau mungkin pesawat tempur lain, tapi setiap pilot pesawat tempur akan mempunyai pengetahuan yang penuh lokasi, ketinggian, dan kecepatan lawan. Tentu saja, semuanya akan tahu benar bagaimana caranya menembak jatuh lawan tersebut. Pihak mana yang dapat membuat gambaran lawan lebih baik, tentu saja akan menjadi pihak yang lebih unggul didalam konflik.
Dalam keadaan sekarang, tidak mungkin F-16 Block-15/52ID dan Sukhoi Su-27 Indonesia dapat di-network bersama. US tidak memberikan (atau tidak mengijinkan) Link-16 NATO-standard network di F-16 Block-52ID, sedangkan TKS-2 Network (kalau ada) di Su-27/30, yang berbasiskan tehnologi Russia tidak akan compatible ke semua sistem pertahananan udara Indonesia yang lain yang rata-rata berbasis tehnologi Barat.
Kelemahan lain, Indonesia tidak akan dapat memasang data network buatan pihak ketiga untuk menghubungkan Su-27/30 dan F-16. Peraturan FMS US tidak mengijinkan modifikasi apapun di F-16 tanpa persetujuan mereka. Di lain pihak, belum pernah ada negara lain yang mencoba memasang Aerial Network buatan Barat yang lebih modern di atas Sukhoi Flanker.
Kesulitan ini akan membawa dampak yang jelek di saat konflik, karena F-16 dan Su-27/30 Indonesia akan bertempur sebagai dua kekuatan yang terpisah, yang hanya dapat dikoordinasi melalui radio. Dan karena sistem radio kedua tipe pesawat ini juga dibuat dari dua sumber yang berbeda, kemungkinannya juga sangat besar untuk lawan dapat melakukan jamming dan mengacaukan signal komunikasi / koordinasi pemakaian kedua tipe ini.
Pembelian Sukhoi Su-35, F-16 Block-62, atau KF-X tidak akan menyelesaikan permasalahan ini. Sebaliknya, Gripen fighter system akan menjadi satu-satunya solusi yang dapat diambil Indonesia.
Swedia adalah salah satu pelopor konsep networking, pertama kalu mulai mencoba sistem ini di tahun 1957. Dengan sistem network TIDLS Swedia (non-NATO, bebas dari kontrol US), SAAB Gripen akan membuka lembaran baru untuk Indonesia. Sistem TIDLS Gripen hampir tidak mungkin bisa di “jamming”. Berbeda dengan Link-16, sistem TIDLS di Gripen akan menghubungkan lebih sedikit pemakai (4 Gripen), tapi pembagian data jauh lebih lengkap/unggul untuk memberikan ‘situational awareness’ yang terbaik. SAAB sudah meningkatkan kemampuan ini lebih lanjut dalam format WISCOM untuk lebih memaksimalkan kemampuan AESA/IRST di Gripen-NG.
Kerjasama dengan Swedia, akan membuka peluang bagi Indonesia untuk mulai ke tahap pengembangan sistem National Data Link network sendiri, yang tidak hanya akan terbatas di Gripen saja. Kebutuhan Indonesia akan unik, hanya untuk Indonesia sendiri.
Semua Alutsista dari AU, AL, dan AD yang sudah terintegrasi fully networked ke dalam sistem pertahanan yang terpadu, akan menjadi deterrent factor tersendiri, yang sukar ditandingi negara lain.
Keuntungan keempat: Gripen-NG adalah proven-concept; satu-satunya tipe yang akan memenuhi kebutuhan, dan keterbatasan Anggaran Indonesia
Memang Gripen-E yang pertama baru akan terbang di tahun 2018. Tidak seperti proyek KF-X, atau proyek yang tidak karuan seperti F-35 — 90% dari semua komponen baru yang akan dipasangkan di Gripen-E/F sudah berhasil di tes dalam bentuk Gripen-NG demonstrator. Tidak ada tehnologi yang dipakai dalam Gripen-E/F yang belum teruji atau beresiko tinggi.
Gripen-NG adalah proven concept, dan dari segi kemampuan patut diperhitungkan oleh semua negara-negara tetangga yg bersenjatakan pesawat tempur buatan US. Perpaduan TIDLS data-link, kemampuan supercruise, dan Meteor BVRAAM (BVR missile terbaik di dunia) akan membuat lawan berpikir dua kali kalau mau mencoba “menjajal” pertahanan udara Indonesia.
Fleksibilitas Gripen untuk bisa beroperasi dari jalan lurus sepanjang 800 meter, juga dapat disesuaikan dengan proyek pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia. Kenapa tidak? Tentu saja ini perpaduan istimewa, kalau pembangunan infrastruktur di setiap tempat dapat diperhitungkan dengan konsep “jalan lurus disini akan menjadi pangkalan gerilya untuk Gripen”. Sekarang Indonesia dapat membangun ribuan “pangkalan rahasia” untuk Gripen di seluruh pelosok negeri.
Masalah selanjutnya, training.

Jumlah latihan jam terbang standar untuk pilot NATO dewasa ini adalah 170 jam terbang / tahun. Pilot USAF dan US Navy mempunyai standar yang lebih tinggi – 220 jam / tahun. RSAF Singapore dan RAAF Australia, yang dibentuk menurut standard NATO, kemungkinan besar akan mempunyai latihan jam terbang per pilot diantara angka 170 jam – 220 jam per tahun ini.
Indonesia boleh membeli pesawat tempur yang sebagaimanapun hebatnya, tapi tanpa investasi dalam jam latihan, tetap akan mudah dikalahkan oleh F-18A/B Australia, atau F-16 Block-52+ Singapore yang jauh lebih “inferior”, hanya karena pilot mereka jauh lebih terlatih.
Flight hour cost (IHS Jane’s)

Dengan biaya operasional Sukhoi Flanker yang mencapai Rp 400 juta / jam, Indonesia akan membutuhkan Rp 1 Triliun per tahun untuk mencapai angka latihan 170 jam per tahun, hanya untuk 16 Sukhoi. Dengan biaya operasional Gripen, Indonesia hanya perlu mengeluarkan kurang dari setengah dari biaya tersebut untuk mencapai 170 jam training untuk 48 Gripen (3 Skuadron).

Kenyataannya, Anggaran militer Singapore dan Australia jauh lebih tinggi. Perlengkapan mereka lebih modern, persenjataan lebih lengkap, dan keduanya tidak pernah mengalami masa embargo militer. Gripen-NG, dengan biaya operasional yang bahkan lebih murah dibandingkan F-16, akan memberikan kesempatan untuk Indonesia untuk mengejar ketinggalan, atau menyamai kemampuan mereka.
Keuntungan Kelima: SAAB/Swedia akan menjadi supplier Indonesia
Sebelum tahun 2000-an, Swedia / SAAB bukanlah penjual pesawat tempur yg aktif seperti UK atau Perancis di dunia internasional. Produk mereka selalu bersaing, tapi tidak pernah dijual bebas. SAAB J-35 Draken hanya dijual ke negara-negara Skandinavia yang lain, sedangkan JA-37 Viggen bahkan tidak dijual ke negara lain.
Kebanyakan negara di dunia ini, tentu sudah membina hubungan baik dengan salah satu supplier traditional — US, Russia, Perancis, dan UK. Kalau hubungan mereka sudah baik, biasanya sudah sulit untuk pindah. Lagipula, kemampuan marketing SAAB jelas bukan tandingan Boeing, Lockheed, EADS, atau Dassault.
Kemampuan geopolitik US untuk melakukan tekanan diplomatis cukup besar (supaya negara lain membeli senjata mereka), dan mereka tentu saja rajin membagi-bagi subsidi gratis bagi pembeli senjata mereka. Tidak seperti Pakistan, Indonesia tidak akan mungkin bisa dapat banyak! US akan tetap lebih “sayang” ke Australia dan Singapore.
Swedia yang netral tidak akan mau ambil pusing dengan permainan semacam itu. Tidak akan ada motivasi ”terselubung” yang menyertai pembelian senjata dari Swedia.
Keberanian untuk menawarkan 100% ToT, berarti Swedia / SAAB melihat adanya peluang kerja sama yang besar dengan industri pertahanan Indonesia. Di lain pihak, SAAB justru menolak untuk ikut kompetisi pesawat tempur di negara tetangganya sendiri, Denmark (ini sangat mengejutkan!), Canada, dan Korea (untuk F-X III diundang, tapi menolak untuk ikut).
Kesimpulan

Seberapa hebatnya Gripen untuk Indonesia, tidak seperti pilihan lain, akan murni 100% tergantung kepada kemampuan Indonesia untuk berinovasi, dan tentu saja komitmen sendiri. Dan tidak seperti Flanker, pesawat ini tidak akan menghabiskan uang anggaran militer hanya untuk biaya operasional, jadi dana yang sudah terbatas dapat dialihkan ke bagian lain.
Gripen akan membuka pintu untuk para ahli Indonesia, bukan hanya dalam bidang pesawat tempur, tapi juga dalam bidang persenjataan, perlengkapan, programming, dan data networking yang modern. Tidak seperti KF-X berbasiskan tehnologi US, tidak akan ada tehnologi yang dirahasiakan. Bukan tidak mungkin, bahkan semua perlengkapan innovatif yang sudah berhasil dikembangkan melalui sistem Gripen, bahkan dapat di eksport di kemudian hari.
PT DI (tergantung jumlah investasi negara di Gripen) juga akan berpeluang untuk menjadi sub-contractor utama perakitan Gripen di kawasan Asia-Pasifik.
Memilih Gripen-NG akan membebaskan kita dari kemungkinan belenggu FMS yang terus mengancam semua tipe buatan US / Korea (sama saja), dan juga menjamin kestabilan dan kesiapan tempur dibandingkan Sukhoi Flanker yang sudah mempunyai reputasi gampang rusak.
Pembelian Gripen-NG akan menjadi langkah pertama Indonesia untuk mencapai sistem pertahanan yang mandiri.
Catatan penutup
Mesin F414G di Gripen-NG adalah satu-satunya komponen yang masih buatan US. Tapi kita tidak perlu terlalu khawatir! Di masa embargo dahulu saja, Indonesia masih bisa mengudarakan F-16 untuk menghadapi insiden pulau Bawean.
Indonesia tentu akan belajar bagaimana cara men-service mesin F414G tanpa bantuan luar. Lagipula, mesin ini sudah mengumpulkan jutaan jam terbang, dan sangat relaible. Di lain pihak, tidak pernah ada satupun Gripen yang pernah jatuh karena kerusakan mesin.
Tambahan: Iran saja masih mampu menerbangkan F-14A, walaupun sudah di-embargo sejak tahun 1979.
(by Gripen Indonesia)

Selasa, 20 Januari 2015

Antara Kilo Class dan Changbogo Class, Masa Depan Satuan Kapal Selam Indonesia


* Minsera.Blogspot.comSetelah kapal selam Kilo Class belum berhasil didatangkan ke Indonesia namun bukan berarti monster bawah laut asal Rusia ini tidak mengisi kekuatan dalam jajaran kapal selam Indonesia. Pasalnya, dukungan publik mengalir untuk segera didatangkannya alautsista canggih asal negeri Tirai Besi ini. Sebagaimana yang telah diungkapkan pengamat alutsista militer dari Indomiliter, Haryo Adjie Nogo Seno beberapa waktu lalu yang menyatakan publik sangat merindukan kekuatan laut kita dekade 60-an yang didominasi asal Rusia (dulu Uni Soviet).

“Dengan kerinduan yang menggebu pada kejayaan militer Indonesia di dekade 60-an, di mana saat itu Indonesia tak terbantahkan menyandang sebagai negara dengan militer terkuat di belahan Asia Selatan, membuat banyak kalangan di Tanah Air bekalangan ini begitu eforia pada peralatan militer buatan Eropa Timur, khususnya asal Rusia,” ujar Adjie biasa akrab disapa. Di era itu, terdapat 12 kapal selam Whiskey Class asal Rusia yang bertengger mengisi satuan kapal selam kita. Sekejap, Belanda dan negara sekutu lainnya kalang kabut melihat kekuatan laut Indonesia saat itu. Tanpa pikir panjang, Amerika Serikat langsung menginstruksikan Belanda untuk segera angkat kaki dari Irian Barat.
Kilo Class Project 636
Lain dulu lain sekarang, kini satuan kapal selam Indonesia tinggal dihuni oleh KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Sehingga, pemerintah dituntut untuk meningkatkan pembelian kapal selam. Tidak tanggung-tanggung, publik pun berharap agar satuan kapal selam Indonesia kembali diisi dari Rusia seperti halnya era 60-an. “Segala yang ‘berbau’ Rusia begitu diagungkan. Tidak ada yang keliru dengan perspektif tersebut, soalnya memang banyak produk alutsista besutan Rusia yang memang mumpuni, bandel dan mampu memberi efek getar,” tukas Adjie.

Lebih lanjut, Adjie memaparkan hal itu terjadi bukan karena masalah kualitas saja melainkan secara psikologis, muncul ketidaksenangan dengan AS beserta negara-negara NATO. “Lepas dari soal kualitas alat tempur yang ditawarkan Rusia, terasa ada aroma dan argumen yang unik dari publik karena didorong semangat dan kerinduaan saat Indonesia di bawah sokongan alat perang Rusia, plus berkembangnya sentimen anti AS dan negara-negara Eropa Barat yang kebanyakan anggota NATO, sontak memunculkan dukungan yang penting buatan Rusia pasti lebih hebat, lebih canggih dan bisa memberi efek deterence maksimal bagi Indonesia,” cetusnya.
Pilihan Jatuh pada Changbogo Class Akan tetapi ekspektasi publik akan kekuatan kapal selam Rusia yang akan mengisi jajaran kapal selam Indonesia harus meleset ketika Kemhan RI di masa Menhan Purnomo Yusgiantoro memutuskan untuk membeli tiga unit kapal selam dari Korea Selatan (Korsel) daripada membeli dari Rusia. Alasan utama yang diungkap terkait harga dan urusan alih teknologi (ToT). “Rusia memang menawarkan kredit negara sebesar 1 miliar dolar AS. Namun lantaran harga tender yang ditawarkan Rusia tidak sesuai kebutuhan TNI AL, maka pemerintah tidak memanfaatkan sisa kredit tersebut, sementara Korsel dalam tender menawarkan kontraknya sekitar 1,1 miliar dolar AS untuk tiga unit kapal selam,” sambungnya. Akhirnya di dapat kesepakatan Kemhan untuk membeli kapal selam Changbogo Class buatan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Kapal selam bertenaga diesel itu masing-masing berbobot 1.400 ton dengan panjang 61,3 meter.
“Selain paket harga, pihak Korea Selatan menawarkan paket TOT (transfer of technology-red), dan itu salah satu keunggulan mengapa Indonesia memilih Korsel. Dalam skema ToT, direncanakan 1 dari 3 unit Kapal Selam tersebut akan dibangun di Indonesia, dan 2 unit lainnya di Korea Selatan. Namun ketiga unit Kapal Selam ini baru akan datang di tahun 2016-2018 mendatang,” tuturnya. Padahal, pihak Rusia pun tengah mengiming-imingi ToT sebagaimana yang terjadi pada masa Bung karno dahulu. Namun, belum ada penjelasan seperti apa pola ToT yang ditawarkan Rusia. Maklum, selama ini Rusia agak ketat untuk urusan ToT, sebut saja pembelian armada Sukhoi TNI AU yang juga tak menyertakan skema ToT. Mengutip pernyataan mantan Dubes RI untuk Rusia Hamid Awaludin di stasiun TV Swasta, Adjie menjelaskan proses pengadaan kapal selam dari Rusia mengalami beberapa tantangan, seperti TNI AL harus menyiapkan fasilitas dermaga kapal selam yang lebih besar, mengingat Kilo Class punya dimensi yang lebih besar ketimbang Type 209.
Belum lagi penyiapan keperluan logistik dan pelatihan awak, yang kesemuanya mengakibatkan biaya membengkak. “Lain halnya, dengan rencana kedatangan Changbogo Class dari Korea Selatan, dengan dimensi yang tak beda jauh dengan kapal selam TNI AL saat ini Type 209, maka TNI AL dipercaya tidak memerlukan modifikasi dan upgrade pada fasilitas pendukung,” tambahnya. Harapan Pada Rusia Akan tetapi, publik setidaknya dapat berharap lebih usai adanya pertemuan antara Menhan RI Jenderal (Purn) Ryamizard Ryaccudu dengan Dubes Rusia untuk Indonesia M.Y.Galuzin di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta, Kamis (15/1) lalu. Dalam pertemuan antara keduanya, turut dibahas rencana untuk meneruskan dan memulai kerjasama di bidang pengadaan beberapa alutsista seperti pesawat tempur multifungsi, jenis SU-35 dan Kapal Selam Kelas 636.
Tidak hanya itu, Pemerintah Rusia juga akan siap mengembangkan kerjasama di bidang industri pertahanan, diantaranya untuk pelaksanaan proses Transfer of Technology, mengadakan Join Production menghasilkan bersama untuk suku cadang berbagai jenis alutsista, mengembangkan skema Offset termasuk juga didirikannya service center. Oleh karena itu, Rusia siap menerima kunjungan dari beberapa pejabat militer dan pertahanan dari Indonesia seperti kunjungan Kasal dan Kasau ke Rusia untuk melihat langsung pesawat tempur jenis SU-35 dan kapal selam 636.

Kereta Api Kuno Jepang Dijual Hanya Rp 3,7 Juta



* Minsera.Blogspot.com * Kereta api kuno keluaran 1962 dari Kota Hakodate Hokkaido Jepang, kereta seri nomor 722, yang juga bagian dari seri 710, akan dijual dengan harga 33.600 yen atau sekitar Rp 3,7 juta. Harga tidak termasuk transportasi dan lainnya.

“Kami ingin jual karena sudah menggunakan kereta yang baru,” kata sumber Tribunnews.com di perusahaan perkeretaapian Jepang, Senin (19/1/2015).

Kereta yang akan dijual ini dipakai hingga 31 Maret 2014. Dilengkapi dengan pantagraph serta perlengkapan lain sehingga bisa langsung digunakan bagi pembelinya.

Bagi yang berminat membeli dinanti hingga 9 Februari 2015.

Penjualan kereta api bekas di Jepang memang murah karena dihitung kiloan sebagai besi bekas, bukan sebagai sebuah alat atau sebuah produk. Namun apabila diimpor ke Indonesia, jauh lebih mahal biaya transport serta asuransi dan pajak impornya.

Kereta api bekas ini disarankan sumber tersebut dapat dipakai sebagai kereta api pariwisata.

“Wisata akan sangat baik dan bisa menarik bagi para penumpang saat ini, seolah sedang bernostalgia,” katanya.

Sumber: http://japanesestation.com/kereta-api-kuno-jepang-dijual-hanya-rp-37-juta/

Akhirnya Rusia Tawarkan Offset dan ToT Alutsista untuk Indonesia


* Minsera.Blogspot.comGara-gara sering disebut pelit untuk urusan ToT (transfer of technology), membuat pemerintah Rusia harus mengambil strategi lain agar pemasaran produk alutsista yang ditawarkan ke Indonesia bisa terus mulus, tak tergerus oleh kompetisi keras dari pemasok asal Korea Selatan, Eropa Barat dan AS yang rajin menawarkan skema ToT k ke Indonesia. ToT menjadi isu yang krusial, mengingat pemerintah Indonesia telah mensyaratkan harus adanya ToT dalam tiap produk alutsista yang di impor.
Tawaran produk Rusia yang menjadi fokus perhatian utama adalah Sukhoi Su-35 BM, sebagai calon pengganti jet tempur F-5 E/F Tiger II TNI AU, pembelian gelombang kedua tank amfibi BMP-3F dan kapal selam diesel listrik Kilo Class. Terkait hal tersebut, otoritas Rusia dan pemerintah Indonesia akhirnya berikrar untuk menandatangani perjanjian kerjasama produksi alutsista. Dikutip dari Janes.com (15/1/2014), rencana kerja sama ini sudah disusun dalam draft perencanaan untuk ditindak lanjuti dengan negosiasi industri pertahanan Indonesia.

Pembicaraan antara Indonesia dan Rusia dibuka 2014 lalu saat Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin disela-sela pertemuan APEC tahun 2014 lalu. Dilanjutkan dengan Delegasi JSC Rosoboronexport dari Rusia yang dipimpin oleh Director General of JSC Rosoboronexport Anatoly P. Isaykin mengunjungi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Letjen TNI Ediwan Prabowo di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
Kementerian Pertahanan Indonesia mengatakan rencana ini berpusat pada pengembangan skema offset pertahanan yang mencakup transfer teknologi, produksi bersama di Indonesia untuk komponen dan struktur, serta pembentukan pemeliharaan, perbaikan, dan pusat layanan perbaikan alutsista di dalam negeri.
Apa itu offset? Dalam setiap pengadaan alutsista di hampir setiap negara dipersyaratkan adanya defence offset yang dibagi menjadi direct offset dan indirect offset. Direct offset yaitu kompensasi yang langsung berhubungan dengan traksaksi pembelian. Indirect offset sering juga disebut offset komersial bentuknya biasanya buyback, bantuan pemasaran/pembelian alutsista yang sudah diproduksi oleh negara berkembang tersebut, produksi lisensi, transfer teknologi, sampai pertukaran offset bahkan imbal beli.
Perjanjian Rusia-RI dalam kasus ini termasuk dalam kategori yang terakhir. Karena Rusia juga menyatakan kesiapannya pelaksanaan ToT untuk setiap alutsista TNI yang dibeli dari Rusia, mengadakan joint production untuk berbagai suku cadang alutsista TNI yang dibeli dari mereka serta mendirikan service center di Indonesia. Semua dengan catatan Indonesia membeli produksi alutsista dari Rusia.
Sesuai dengan kebijakan Presiden Joko Widodo dalam memperkuat Poros Maritim, pihak Kementerian Pertahanan dan TNI AU pun mengincar Be-200, pesawat yang mampu mendarat di laut. Enath kebetulan atau tidak, Beriev Be-200 juga turut diikutkan Rusia dalam misi evakuasi pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata. Keberadaannya berguna untuk patroli di laut terhadap pencurian ikan di laut dan bisa digunakan untuk membantu pencarian kecelakaan jatuhnya pesawat di laut.
Kembali ke soal offset, Indonesia sudah cukup familiar dalam hal kerjasama offset alutsista. Kilas balik ke tahun 1988 – 1989, Indonesia memilih membeli F-16 A/B Fighiting Falcon salah satunya karena faktor offset. AS menawarkan 35% offset, sementara Perancis dengan Mirage 2000 hanya menawarkan 25% offset kepada Indonesia. Wujudnya PT Dirgantara Indonesia (d/h PT IPTN) mendapat pesanan untuk memproduksi suku cadang pesawat F-16. Hasil produksi suku cadang tersebut kemudian di ekspor PT IPTN ke pihak AS. Ada sekitar lima jenis komponen suku cadang F-16 yang diproduksi PT IPTN kala itu. Total pesanan offset di atas merupakan bagian dari kontrak pembelian 12 unit F-16 A/B Fighting Falcon untuk Skadron Udara 3 senilai US$337 juta. 

Minggu, 18 Januari 2015

Mengintip Belanja Militer Jokowi


* Minsera.Blogspot.com * - AnalysisPerkuatan militer Indonesia terus berlanjut dan diperkirakan akan lebih seru dari periode sebelumnya. Presiden Jokowi sudah bertekad menjadikan militer Indonesia bergigi dan bertaring dengan melakukan pembelanjaan alutsista. Prediksi nilai belanja itu minimal mencapai US$ 20 milyar mulai tahun ini dan lima tahun ke depan.

Orang dekatnya Andi 
Widjajanto adalah salah satu pemberi semangat Presiden yang menguasai betul seluk beluk pertahanan karena dia memang seorang cendikiawan pertahanan yang menginginkan kekuatan militer kita gahar.


Saat ini kita sedang menunggu kedatangan 
lanjutan berbagai alutsista yang sudah dipesan sebelumnya antara lain jet tempur F16 setara blok 52, MBT Leopard 2, Roket Astross, Artileri Caesar Nexter, Hercules, CN295, Radar dan lain lain. Pembangunan 3 kapal selam Changbogo juga sedang berlangsung saat ini di Korea Selatan. Untuk percepatan target perolehan 8 kapal selam sampai tahun 2020, Indonesia diperkirakan akan mengakuisisi minimal 2 kapal selam jenis lain selain Changbogo.


Dengan visi poros maritim sebagai pemersatu 
pulau-pulau nusantara maka Angkatan Laut dipastikan akan mendapatkan perolehan alutsista kapal perang yang lebih berkualitas. Kita memerlukan lebih banyak kapal perang berkualifikasi fregat atau destroyer, maka prediksi lima tahun ke depan ini akan ada akuisisi 7-8 kapal fregat bekas pakai bersama 2-3 kapal destroyer. 
KRI Krait 827 (KCR 40)

Sementara kapal perang kelas KCR yang sudah mampu dibuat di tanah air akan lebih fokus dengan ukuran 50-60 meter. Untuk lima tahun ke depan tidak sulit membuat 20-25 KCR di beberapa galangan kapal swasta nasional.
 
Marinir
Penambahan kekuatan divisi Marinir menjadi tiga divisi sejalan dengan pemekaran armada tempur laut menjadi tiga armada tentu memerlukan isian alutsista dan komponen pendukungnya. Korps Marinir diperkirakan akan menambah persenjataan kavaleri dan artilerinya dengan penambahan alutsista minimal untuk 2-3 batalyon termasuk peluru kendali anti serangan udara untuk melindungi pangkalan angkatan laut di beberapa tempat.

Bakamla yang dibentuk pertengahan Desember tahun lalu sudah memastikan akan membangun sedikitnya 30 kapal patroli pantai berbagai ukuran untuk memperkuat armada kapal jenis BMI (Buru Maling Ikan). Itu diluar dari hibah 10 kapal patroli non rudal yang dihibahkan dari TNI AL. Dengan begitu dalam lima tahun ke depan sudah tersedia 50-60 kapal penjaga pantai BMI. Yang menggembirakan tentu adalah bahwa 30 kapal patroli BMI yang mau dibuat itu akan ditenderkan kepada galangan kapal swasta nasional di tanah air.

Next Indonesia Fighter


Matra udara diperkirakan akan memperoleh 1 skuadron jet tempur Sukhoi SU35 dan 2
skuadron jet tempur lainnya, bisa dari jenis F16 blok 60, Gripen atau Typhoon. Jet tempur Sukhoi SU35 sangat diperlukan sebagai bagian dari perkuatan Sukhoi Family dan untuk menjawab akuisisi jet tempur siluman F35 dari dua negara tetangga Singapura dan Australia. 

Tidak hanya itu TNI AU akan memperkuat alat pandang dengarnya dengan menggelar radar-radar terbarunya termasuk satuan radar dan rudal yang bersifat mobile Nunukan adalah satu contoh pergelaran satuan radar dan rudal mobile dalam satu paket.

Pembangunan pangkalan militer di Natuna diharapkan akan menjadi home base permanen jet tempur dan kapal perang. TNI AD juga memperkuat pulau besar terluar di Laut Cina Selatan ini dengan menempatkan 1 batalyon infantri permanen, 1 skuadron heli serbu dan kemungkinan tambahan 1 batalyon arhanud. Natuna adalah pertaruhan agar keterjagaan eksistensi teritori tidak diusik dan diremehkan. 


Maka sudah sepantasnya disiapkan lebih dini infrastruktur militer dan berbagai alutsista modern di pulau itu. Yang menarik tentu perkuatan instalasi militer di Natuna membawa nilai gentar bagi Malaysia karena menjadi sekat militer yang bisa
menghalangi jalur logisik Semenanjung dengan Serawak, Sabah jika terjadi konflik
kedua negara.



Modernisasi militer Indonesia yang diamati cermat oleh beberapa negara tetangga, lebih sering dipublikasikan oleh media militer luar negeri termasuk ulasan pengamat militernya. Dalam pandangan kita tentu perkuatan militer itu untuk memastikan jaminan keyakinan kemampuan pada kekuatan militer yang dimiliki, mampu mempertahankan teritori NKRI. Dalam pandangan beberapa jiran tujuan mulia itu tentu diapresiasi tetapi mereka juga memantau ketat pergerakan arah kiblat kekuatan militer Indonesia disamping sejauh mana kekuatan itu berpotensi menjadi ancaman mereka.

Kita berpendapat sesungguhnya 70% kiblat alutsista Indonesia tetap ke Barat sedang
sisanya adalah keinginan mandiri dan menyeimbangkan perolehan alutsista dengan Rusia dan Korea Selatan. Dengan Cina kita berupaya melakukan kerjasama militer, sayangnya negeri semilyar umat itu terlalu berhitung untung rugi. Misalnya dalam transfer teknologi peluru kendali anti kapal C705. Sejauh ini hanya Korea Selatan yang lebih terbuka dalam manajemen kerjasama militer sementara Rusia kelihatannya baru membuka diri, jadi perlu bukti.

Sesungguhnya belanja militer Indonesia saat ini sedang diintip ketat oleh negara produsen alutsista. Banyak yang kembali menawarkan seikat kembang merah dengan janji madu transfer teknologi. Ujian terbesar dari pihak kita sebenarnya adalah mempertahankan nilai istiqomah ToT dan pengutamaan produksi dalam negeri. Kita akan melihat sejauh mana keistiqomahan itu tetap dipegang karena sebelumnya sudah terbangun mekanisme kerjasama alih teknologi. Sementara produksi dalam negeri sudah berjalan bagus seperti Panser Pindad, KCR40, KCR60, Roket Rhan.

Pengembangan alutsista berteknologi produksi dalam negeri pertaruhannya ada di periode ini, misalnya tank Pindad, peluru kendali, kapal perang PKR 10514, kapal selam. Dan itu salah satu sebab mengapa kita perlu mengintip belanja militer Jokowi.