Thursday, 1 January 2015

Operasi Ketika Bahan Bakar Terbatas...


* Minsera.Blogspot.comMARS ”KRI Abdul Halim Perdanakusuma” pun dinyanyikan prajurit Kapal Republik Indonesia Abdul Halim Perdanakusuma 355 dengan lantang. Lagu yang syairnya membakar semangat dan membangkit emosi petarung samudra itu kini menjadi saluran untuk meluapkan kegembiraan. Mereka menunaikan misi dengan prestasi yang tak ada takarannya. Misi yang diemban dijalankan dengan baik.
Lagu itu dinyanyikan di hadapan Panglima Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur Laksamana Muda Arie H Sembiring, yang menyambangi kapal itu saat berlabuh di Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX Ambon, Maluku, pekan lalu. Arie hadir untuk menyampaikan apresiasi atas keberhasilan anak buahnya saat berpatroli di Laut Arafura.
Kapal pabrikan galangan NV Koninlijke Maatscappy de Schelde Vlischingen, Belanda, tahun 1967 itu baru mengamankan delapan kapal yang diduga melakukan pencurian ikan. Dengan kecepatan maksimal 20 knot, kapal yang memiliki panjang 113,42 meter dan lebar 12,506 meter itu menyergap kapal yang selama ini bebas melakukan pelanggaran di Laut Arafura.
”Bapak-bapak sudah melaksanakan tugas dengan baik, menjaga kedaulatan negara di perairan timur Indonesia. Ini prestasi yang sangat membanggakan. Selamat untuk keberhasilan ini,” kata Arie, yang didampingi Komandan Lantamal IX Ambon Laksamana Pertama Arusukmono Indra Sucahyo dan Komandan Kapal Republik Indonesia Abdul Halim Perdanakusuma (KRI AHP) 355 Kolonel Laut (P) Dato Rusman SN.
Dato, pimpinan operasi itu, menuturkan, KRI AHP 355 meninggalkan pangkalan di Surabaya, Jawa Timur, pada 18 Oktober untuk melakukan patroli alur laut dengan sandi operasi Lintas Sakti. Kapal dengan bobot 2.800 gros ton (GT) itu menyusuri selatan perairan Indonesia dengan melewati Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga Papua.
Lima hari kemudian, mereka tiba di ujung timur perairan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua Niugini. Jarak yang ditempuh dari Surabaya hingga batas paling timur itu sekitar kurang 1.800 mil laut (3.333,6 kilometer). Bahan bakar yang dihabiskan sekitar 150.000 liter solar.
Setibanya di perairan yang tingkat pencurian ikannya paling tinggi itu, mereka intens melakukan pemantauan. Semua sasaran permukaan didatangi untuk dicek kelengkapan dokumennya. Sebanyak 48 kapal diperiksa.
Pada 7 Desember, lanjut Dato, KRI AHP 355 menangkap dua kapal, yakni Kapal Motor (KM) Century 04 dan KM Century 07. Dua kapal yang berbendera Papua Niugini itu sedang beraktivitas di selatan Merauke, Papua, dekat perbatasan Papua Niugini.
”Kapal itu hendak melarikan diri hingga sempat masuk ke perairan Papua Niugini, tetapi bisa dihentikan setelah kami melakukan pengejaran seketika. Kami mengeluarkan tembakan peringatan sebanyak dua kali,” ucap Darto.
Setelah diperiksa, ternyata dua kapal itu milik pengusaha Thailand yang bernama Somporn Kitporka yang beralamat di Distrik Krokkrak, Provinsi Amphoe Muang Samutsakhon. KM Century 04 berbobot 200 GT membawa 20 ton ikan campuran dan KM Century 07 yang berbobot 250 GT mengangkut 43 ton ikan.
”Setelah kami periksa dan dinyatakan ada dugaan illegal fishing, semua anak buah kapal (ABK) di dua kapal yang terdiri dari 45 orang Thailand dan 17 orang Kamboja itu kami perintahkan masuk ke KRI AHP 355. Petugas kami yang mengambil alih kemudi kapal mereka,” kata Dato.
Ganti bendera
Eumet Thamaroj (40), ABK KM Century 04, ketika ditemui di Lantamal IX Ambon mengungkapkan, modus yang dipakai untuk mengelabui aparat di Indonesia adalah mengganti bendera Thailand dengan bendera Papua Niugini. ”Kalau masuk Indonesia, kami ganti dengan bendera Indonesia,” kata Eumet yang mengaku sudah delapan tahun mencari nafkah di perairan Indonesia.
Patroli kembali dilanjutkan pada 8 Desember 2014. Setelah mendapatkan informasi dari data automatic identification system, KRI AHP 355 kembali mendatangi kerumunan kapal di perairan yang sama, Laut Arafura, tepatnya sebelah barat Pulau Dolak. Mereka menemukan enam kapal lain, yakni KM Sino 15, KM Sino 26, KM Sino 36, KM Sino 35, KM Sino 33, dan KM Sino 27.
Kapal-kapal eks Tiongkok itu berbendera Indonesia, tetapi melakukan penangkapan di daerah tangkap yang tidak sesuai dengan surat izin penangkapan ikan. Pemilik kapal itu adalah PT Sino Indonesia Sunlida Fishing yang beralamat di Kampung Timur Nomor 206, Kelurahan Seringgu Jaya, Merauke, Papua.
Persoalan semakin kompleks. Dengan jumlah personel KRI AHP 355 yang terbatas, yakni 114 orang, mereka harus mengawal delapan kapal beserta 154 ABK. Namun, dengan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki, mereka membawa kapal yang diduga melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia itu menuju Lantamal IX Ambon dan tiba pada Sabtu, 13 Desember.
Belum efektif
Kendati dalam waktu dua hari bisa menangkap delapan kapal, jumlah itu masih jauh dari potensi pencurian ikan di Laut Arafura. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam satu tahun terdapat setidaknya 8.484 kapal yang tidak sesuai izin operasi melakukan aktivitas di Laut Arafura. Kapal-kapal itu berukuran besar dan mampu menampung lebih dari 2,02 ton ikan. Kerugian negara ditaksir mencapai Rp 40 triliun per tahun.
Masalahnya, hanya ada satu kapal yang berpatroli di Laut Arafura. Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Timur tidak bisa mengoperasi empat kapal sejenis yang semula diandalkan untuk melakukan patroli. Penyebabnya adalah kekurangan bahan bakar.
”TNI Angkatan Laut tidak mempunyai bahan bakar yang cukup untuk mengoperasikan kapal-kapal itu,” kata Arie. Satu kapal membutuhkan 30.000 hingga 50.000 liter solar setiap hari. Seperti KRI AHP 355, daya tampung bahan bakar maksimal 556.000 liter.
Minimnya kapal patroli, lanjut Arie, membuat pengawasan di Laut Arafura tidak efektif. Banyak kapal yang diduga mencuri ikan tidak bisa ditangkap. ”Pada saat kami memeriksa satu kapal, (kapal) yang lain lari,” katanya.
Ketika menghadiri peresmian Pengadilan Perikanan pada Pengadilan Negeri Ambon, beberapa waktu lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, perairan timur Indonesia, terutama Laut Arafura, rawan pencurian ikan. Ia bertekad mengusir semua nelayan asing di perairan itu. Tekad Susi mendapatkan apresiasi dan dukungan TNI AL. Namun, faktor pendukung, seperti bahan bakar, juga perlu diberi perhatian.

Momen Haru Saat Awak KRI Banda Aceh Berdoa di Depan Jenazah Kevin dan Hayati


* Minsera.Blogspot.comDua kantong berisi jenazah yang berada di KRI Banda Aceh sudah ditandai dengan tulisan 'Kevin Alexander' dan 'Hayati Lutfiah'. Nama tersebut diketahui dari identitas yang tertempel di jenazah. Keduanya langsung didoakan oleh kru.
Pantauan detikcom di KRI Banda Aceh, Kamis (1/1/2015), dua jenazah itu berada di kantong warna hitam bertuliskan Basarnas. Ada juga tulisan Kevin Alexander dan Hayati Lutfiah.
Sebelum diangkut oleh helikopter, para kru di kapal sempat membentuk lingkaran mengelilingi jenazah. Mereka lalu berdoa.
Komandan KRI Banda Aceh, Letkol Laut Arief Budiman, mengatakan dua jenazah itu akan kembali diidentifikasi di Surabaya. Rencananya, butuh waktu sekitar 15 menit sebelum jenazah sampai di Pangkalan Bun.
"Nanti bakal dipastikan lagi di daratan," ujar Arief di KRI Banda Aceh yang saat ini buang jangkar di perairan Pangkalan Bun.

Sumber: http://news.detik.com/read/2015/01/01/083929/2791657/10/momen-haru-saat-awak-kri-banda-aceh-berdoa-di-depan-jenazah-kevin-dan-hayati?9911012

Wednesday, 31 December 2014

Happy New Year 2015



* Minsera.Blogspot.com * Selamat Tahun Baru 2015 teman2 warmil, terima kasih atas partisipasinya selama ini mudah2an di tahun 2015 grup kita bisa menjadi Blog yang paling rame dan heboh di jagat dunia maya Aamiin
Salam hormat dari seluruh admin Minsera.Blogspot.com * kepada para member...

Internasional Puji SAR Indonesia sebagai Tim Terbaik di Asia



* Minsera.Blogspot.com *  Dunia internasional memuji kemampuan tim SAR Indonesia yang mampu menemukan AirAsia QZ8501 dengan cepat, dan dianggap sebagai salah satu tim SAR terbaik di di Asia.

“Indonesia telah berpengalaman menghadapi bencana, sehingga mereka memiliki kemampuan yang sangat bagus dalam menginvestigasi berbagai insiden," ujar Greg Waldron, editor majalah penerbangan FlightGlobal, sebagaimana dikutip dari Wall Street Journal, Selasa (30/12/2014).
Dari catatan dia, tim SAR Indonesia telah mampu menangani dengan baik berbagai kecelakaan pesawat seperti tenggelamnya kapal ferry dan beberapa kecelakaan pesawat, kendati menghadapi kondisi geografis yang cukup sulit.
Waldron mengatakan tim SAR Indonesia sebenarnya mampu mencari pesawat di lokasi terakhir pesawat tersebut melakukan komunikasi. Namun, karena kondisi cuaca yang buruk, hal itu urung dilakukan.
Investigator Indonesia (KNKT) juga telah memiliki hubungan yang erat dengan berbagai lembaga internasional dalam menelisik berbagai insiden kecelakaan pesawat. Lembaga itu salah satunya adalah National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat.
Sementara itu, Mark Martin dari konsultan penerbangan independen Martin Consulting menuturkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kapal laut tanpa awak yang mampu melacak keberadaan benda di bawah laut. “Jika ada pesawat yang tenggelam di laut, saya yakin, pihak Indonesia bisa dengan cepat melacaknya dan proses pencarian akan berhasil," kata dia.

Martin juga menyarankan agar kru pesawat juga dilatih untuk memahami kondisi perairan yang ada dalam rute penerbangan di Indonesia, dan memiliki kemampuan navigasi standar ketika dalam keadaan darurat.
CEO AirAsia Toni Fernandes malam ini juga mengapresiasi tim SAR yang dengan cepat mampu menemukan posisi jatuh pesawat. "Kami sangat berterimakasih kepada Basarnas yang dengan cepat menemukan korban. Saat ini fokus kami adalah bagaimana mengevakuasinya," tutur Fernandes.

Pesawat Air Asia di Temukan


* Minsera.Blogspot.comevakuasi sebanyak enam jenazah penumpang AirAsia QZ8501, Selasa (30/12/2014), dilakukan sendiri oleh Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo. Kapal perang yang lain baru akan datang pada Selasa petang.
Kami Segenap Tim Minsera.Blogspot.com mengucapkanTurut berduka cita untuk Keluarga korban Air Asia. Smoga evakuasi berjalan dengan lancar & tim di beri kekuatan demi tugas kemanusiaan ini.

Kegiatan Presiden JokoWidodo Saat Peninjauan Lokasi Pesawat AirAsia yang Jatuh



* Minsera.Blogspot.comKegiatan Presiden RI saat meninjau lokasi ditemukannya ‪#‎QZ8501‬dengan menggunakan Hercules A-1341. Sumber: @setkabgoid (twitter). Link berita: http://tni-au.mil.id/…/presiden-ri-naik-hercules-tni-au-tin…









Monday, 29 December 2014

Ini Rute Hercules TNI AU Cari Pesawat AirAsia Hingga Temukan Ceceran Minyak


* Minsera.Blogspot.com * Pesawat Hercules Alpha 1319 merupakan salah satu dari 2 pesawat C130 TNI AU yang diterbangkan mencari Pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang sejak kemarin. Hercules C130 ini memulai operasinya di Tanjung Pandan Utara hingga akhirnya berhasil menemukan titik minyak.



Hercules Alpha 1319 yang dikapteni oleh Pilot Letkol Pnb IG Putu Setia D berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 06.00 WIB, Senin (29/12/2014). Hercules Alpha 1323 pun menyusul dengan jam pemberangkatan pukul 06.30 WIB.

Alpha 1319 tiba di lokasi penyisiran di Tanjung Pandan sekitar pukul 07.30 WIB. Selama kurang lebih 5,5 jam, pencarian pesawat ini tidak menemukan apa-apa atau negative. TNI AU dibantu oleh 1 pesawat Hercules Singapura, 1 heli dan Hercules Malaysia pada operasi SAR hari ini namun mereka kembali dengan tangan kosong.

Masih menyisakan waktu penerbangan, atas koordinasi Posko di Halim, Hercules sempat menyusur ke wilayah Laut Jawa dekat Pangkalan Bun. Selanjutnya Alpha 1319 kembali bergerak ke wilayah Perairan Tanjung Pandan di wilayah sebelah Timur karena adanya laporan mengenai ceceran minyak di wilayah tersebut.

"Kita kaporan ada ceceran minyak di timur Tanjung Pandan. Memang ada ceceran minyak tapi belum bisa dipastikan apakah dari pesawat atau dari kapal laut yang melintas," ujar Putu di Lanud Halim Perdanakusuma usai operasi pencarian hari ini usai dilakukan.

Menurut Putu, ada 2 titik ceceran minyak yang ditemukan di wilayah Selat Karimata. Daerah tersebut berdekatan dengan lokasi Pesawat AirAsia terakhir terdekteksi sebelum hilang kontak.

"Ada 2 lokasi di sekitar selat itu. Ada 6 kali kita mutar (di lokasi ceceran minyak). Jaraknya kedua titik berdekatan," kata Putu.

Sumber: 
http://news.detik.com/read/2014/12/29/183741/2789455/10/ini-rute-hercules-tni-au-cari-pesawat-airasia-hingga-temukan-ceceran-minyak