* Minsera.Blogspot.com * Sampai periode awal tahun 90-an,
TNI-AL masih cukup membanggakan bila
dilihat dari arsenal tempurnya,
salah satu indikatornya hingga
masa itu hanya Indonesia
satu-satunya
negara di Asia
Tenggara yang memiliki armada
kapal selam.
Dominasi armada
kapal selam Indonesia di
kawasan Asia
Tenggara telah
dimulai sejak eratahun 60-an, dimana
saat itu TNI-
AL mengoperasikan
12 unit kapalselam kelas Whiskey
buatan Rusia.
Tapi lain dulu lain
sekarang, dominasi Indonesia
dalam armada
kapal selam telah
tumbang, pasalnya Singapura
dan Malaysia
kini sudah
mempunyai armada kapal selam dalam
jumlah yang
jauh lebih banyak
dari yang dimiliki TNI-AL.
Singapura negeri
super kecil ini
justru telah punya 4 unit kapal selam
kelas Sjoormen
buatan Swedia,
sedang Malaysia kini juga memiliki
2 unit kapal
selam kelas Scorpene buatan Prancis.
Meski tak lagi jadi
”pemain” yang dominan di kawasan
Asia
Tenggara, kekuatan
armada kapal selam TNI-AL masih
cukup
disegani, walau
hanya memiliki 2 unit kapal selam
saja. Tumpuan
TNI-AL yakni kapal
selam dari type 209/1300 yang
dibuat oleh
galangan kapal
Howaldtswerke di Kiel, kawasan
Jerman Barat.
Type 209 TNI-AL mulai
dipesan Indonesia pada
tahun 1977,
dan baru pada tahun
1981 mulai bertugas memperkuat
armada TNI-
AL dengan
panggalannya di Lanal Dermaga Ujung,
Surabaya.
Kedua kapal diberi
nama KRI Cakra (401) dan KRI
Nanggala (402).
Angka 4 menunjukkan
identifikasi divisi kapal selam.
Sebelumnya di
era tahun 60an,
TNI-AL juga menggunakan kode
yang sama
untuk identifikasi
12 unit kapal selamnya. Untuk
kemudahan
identifikasi, kedua
kapal disebut sebagai kapal selam
kelas Cakra.
Kapal selam type
209 terbilang cukup laris di
pasar internasional,
salah satu prestasi
kapal jenis ini mampu mengusik
gugus tempur
angkatan laut
Inggris saat perang Malvinas di
Atlantik Selatan.
Setelah menembakan
torpedo yang sayangnya tak
meledak, type 209
Argentina berhasil
lolos dari upaya sergapan setelah 60
hari kucing-
kucingan, dan bisa
kembali ke pangkalan dengan
selamat.
KRI Cakra digerakan
oleh motor listrik Siemens
jenis low-speed
yang disalurkan
langsung (tanpa gear pengurang
putaran) melalui
sebuah shaft ke
baling-baling kapal. Total daya
yang dikirim
adalah 5000 shp
(shaft horse power), tenaga
motor listrik datang
dari
baterai-baterai besar yang beratnya sekitar
25% dari berat
kapal, baterai
dibuat oleh Varta (low power) dan
Hagen (Hi-power).
Tenaga baterai
diisi oleh generator yang diputar 4 buah
mesin diesel
MTU jenis
supercharged.
Saat menyelam kapal
selam menggunakan tenaga
listrik, hal
ini membuat
pengoperasinnya bebas bising,
senyap sehingga tak
mudah terdeteksi
sonar dari kapal musuh. Saat kapal
berada di
permukaan baru
diaktifkan mesin diesel, sekaligus
tahap untuk proses
re charging baterai.

Persenjataan KRI
Cakra terdiri dari 14 buat torpedo SUT
(surface and
underwater torpedo)
21 inchi buatan AEG dalam
delapan
tabung. Torpedo
jenis ini dapat dikendalikan secara
remote.
KRI Cakra dan Nanggla
juga kerap digunakan untuk
menunjang misi
intelijen dan
observasi. Dalam beberapa kesempatan,
kapal selam
ini juga digunakan
sebagai wahana transportasi bagi
pasukan katak.
Seorang pasukan
katak dapat dilontarkan dari
lubang tabung
torpedo, sangat pas
untuk misi infiltrasi. Keberadaan kapal
selam tak bisa
dilepaskan dari
fungsi periskop, KRI Cakra
mengandalkan periskop
dengan lensa buatan
carl zeiss.
Sedang untuk
snorkel dibuat oleh Maschinenbau
Gabler, keduanya
merupakan pabrikan
asal Jerman. Secara teknis KRI
Cakra memiliki
berat selam 1,395
ton. Dengan dimensi 59,5 meter
x 6,3 meter x
5,5 meter. Sanggup
mendorong kapal hingga
kecepatan 21,5 knot.
Diawaki oleh 34
pelaut. Mampu menyelam hingga
kedalam 500
meter. Sonar yang
digunakan adalah jenis
CSU-3-2 suite.
Karena hanya
memiliki 2 unit kapal selam,
pengoperasiannya
dilakukan secara
bergantian.
Spesifikasi Teknis
Kapal Selam
Type 209 1100 1200 1300 1400
1500
Displacement
(submerged) 1,207 t
1,285 t 1,390 t
1,586 t 1,810 t
Dimensions
54.1×6.2×5.9m
55.9×6.3×5.5m
59.5×6.2×5.5m
61.2×6.25×5.5m
64.4×6.5×6.2m
Propulsion
Diesel-electric, 4 diesels, 1 shaft
5000 shp 6,100 shp
(4,500 kW)
Speed (surface) 11
knots (20 km/h)
11.5 knots
Speed (submerged)
21.5 knots 22
knots 22.5 knots
Range (surface)
11,000 nmi (20,000
km) at 10 knots (20
km/h)
Range (snorkel)
8,000 nmi (15,000
km) at 10 knots (20
km/h)
Range (submerged)
400 nmi (700
km) at 4 knots (7
km/h)
Endurance 50 days
Maximum depth 500 m
Armament 8x 553 mm
torpedo
tubes
* 14 torpedoes
* Optional UGM-84
Harpoon
integration
Pada tahun 1980
ketika saat itu kapal selam type U
209 milik TNI
AL baru saja dibeli
oleh pemerintah
Indonesia di bawa dari
Kiel Jerman Barat
menuju sarangnya di
Pangkalan Ujung
Surabaya, pada saat
itu pula negara-negara NATO
juga sedang
melakukan latihan
perang anti kapal selam di laut
Mediterania.
Dan kawasan laut
Mediterania ini pula merupakan
kawasan jalur
pelayaran laut
kapal selam U 209 milik TNI AL
tersebut. Dan ketika
kapal selam U 209
tersebut melintasi laut
Mediterania dalam
posisi moda
menyelam. Kemudian pada saat melakukan
moda
menyelam dan
melintasi laut Mediterania yang
tengah diadakan
latihan perang anti
kapal selam oleh NATO sementara
awak kapal
selam U 209 kita
belum mengetahui kalau
sedang ada
latihan perang
tersebut di atas permukaan para awak
mendeteksi
adanya banyak
pancaran sonar dari kapal-kapal
permukaan. Dan
karena tidak paham
dengan situasi di atas permukaan
maka para awak
kapal selam U 209
memutuskan untuk melakukan
perubahan moda
dari menyelam ke
moda muncul di permukaan. Dan pada
saat muncul
di permukaan kapal
selam U 209 TNI AL muncul di
tengah-tengah
konvoi kapal perang
Angkatan Laut negara-negara NATO.
Dan dari kejadian
tersebut diketahui bahwa
kapal-kapal
permukaan Angkatan
Laut negara-negara NATO tidak
ada satupun
yang mendeteksi
kehadiran kapal selam U 209/1300
milik TNI AL dan
singkat kata kedua
belah pihak baik TNI AL dan
Angkatan Laut
negara-negara NATO
sama-sama terkejut.
Dan dari kejadian
di atas tersebut telah membuktikan
bahwa kapal
selam U 209/1300
milik TNI AL benar-benar senyap
dan tidak bisa
dideteksi dengan
sonar oleh kapal permukaan milik
negara-negara
Angkatan Laut NATO
yang tergolong modern
dan sangat maju.
Selain kisah di
atas masih ada lagi kisah kehebatan U
209 kita di tahun 1986.
OPERASI "CAKRA
SEHAT" (2 April
86 s/d 15 Juni 86)
Ini adalah operasi
membawa KS KRI Cakra 401 type
U 209 ke
Jerman untuk
Perbaikan Besar rute-rutenya adalah:
Surabaya - Jakarta
Jakarta - Colombo
(Srilangka)
Colombo - Jibouti
(di Afrika)
Jibouti - Port Suez
- Port Said
(Mesir)
Port Said - Cadiz
(Spanyol)
Cadiz - Hamburg -
Kiel (Jerman)
Perjalanan ini
membawa KS KRI Cakra yang sudah
banyak
kerusakan, tidak
mempunyai periskop navigasi
karena periskop
navigasinya
diberikan ke KRI Nanggala 402 yang
periskop
navigasinya rusak
tersangkut jaring nelayan, jadi KRI
Cakra 401 hanya
mengandalkan
periskop serang saja. Tapi KS KRI
Cakra 401
membawa torpedo
lengkap sesuai dengan isian
penuhnya
Perjalanan Surabaya
- Jakarta ditempuh dalam
waktu 2 hari.
Perjalanan Jakarta
- Colombo ditempuh dalam 16
hari melalui
penyelaman maupun
permukaan..
Perjalanan Colombo
- Jibouti ditempuh dalam
waktu 18 hari dan
pada etape ini
mulai ada gangguan tehnis
yaitu Baterai
mulai banyak yang
drop dengan cepat, jadi kapal
sering melakukan
snorkeling untuk
mengisi baterai, pada saat itu masuk
Bulan
Ramadhan dan
sebagian besar ABK tetap menjalankan
ibadah puasa
walaupun diberi
dispensasi untuk tidak
melaksanakannya.
Perjalanan Jibouti
- Port Suez - Port Said ditempuh
dalam waktu
12 hari dalam etape
ini KS melewati terusan
Suez.
Port Said - Cadiz
ditempuh dalam waktu 22 hari, di
sekitar selatan
Pulau Kreta Yunani,
Juru Sonar mendengar ada suara
baling-
baling berjarak
sekitar 30 menit dari KS. KS yang
saat itu sedang
snorkeling mengisi
Baterai langsung
menghentikan snorkeling
dan bersiap
menyelam lebih dalam lagi. Jam 3 pagi
terdengar
"ping"
(sonar aktif) tanda KS sedang dideteksi
oleh kapal lain.
Karena bukan
suasana perang komandan kapal
memerintahkan
untuk timbul ke
permukaan dan disambut oleh
gelegar 2 pesawat
F14, ternyata KS
memasuki daerah latihan NATO.
Segera bendera
MERAH PUTIH
dikibarkan dan ada 2 fregat satu dari
Spayol dan satu
dari Portugal
mendekat "what ship...?"
tanya mereka, dijawab
dengan kode
internasional "This is PKOB the Indonesian
Man of War",
"Destination
Cadiz Spain". Setelah KS merapat di Cadiz
ternyata 2
fregat itu tetap
mengikuti dan ikut merapat dibelakang
KRI Cakra 401.
Cadiz - Hamburg -
Kiel dalam etape ini masuk waktu
Idul Fitri, sholat
Ied dilaksanakan di
ruang CIC dalam kedalaman 75m
dpl
mungkin ini
satu-satunya sholat ied dibawah laut
(dalam KS)
khotbah Ied
dibawakan oleh Serda Lasiman. Memasuki
selat Inggris
periskop satu
satunya yang berfungsi mendadak
tidak
berfungsi karena
tidak ada aliran listrik ternyata
ada pin konektor
yang putus kemudian
diakali oleh awak kapal dengan
mengganjal
dengan jarum pentul
dan berhasil, singkat kata KS
akhirnya masuk ke
Kiel dan naik dok
HDW...komentar orang HDW "kok
kapal masih
"bagus"
begini sudah dibawa kemari?"
sambil geleng-geleng
kepala dan
mengacungkan jempol. Jawab ABK
"Katanya setelah 5
tahun harus
overhaul" .
Menurut pejabat di
HDW tidak ada KS yang dibawa
langsung ke
Jerman biasanya
akan dinaikkan ke atas kapal atau
ditarik dengan
kapal
tunda.....TABAH SAMPAI
Akhir