Tuesday, 21 May 2013

TNI AU TERIMA TEAM PILOT TRAINING SURVEY F-16 DARI USA


* Minsera.Blogspot.com * Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, SE., menerima tamu Amerika, terkait mengenai kedatangan pesawat F-16 hibah dari Amerika Serikat, kepada pemerintah Indonesia, di Ruang Tamu Komandan Lanud Iswahjudi, Senin (20/5).

Tamu Amerika ini terdiri dari Letkol Cosey Justin Ward (Deputi Chief, ODC, U.S. Embassy Jakarta), Mayor Stepen Josep Charr (Pilot Internasional Affairs USAF), Mayor Wesley Kelvin Cook (Training Officer USAF). 

Kedatangan Team Pilot Training Survey F-16 dari negeri Paman Sam ini untuk menyampaikan perencanaan latihan terbang bagi penerbang F-16, untuk pesawat-pesawat F-16 yang akan tiba di Lanud Iswahjudi. Disamping itu juga akan dilakukan diskusi mengenai materi-materi tentang kedatangan pesawat-pesawat F-16 yang akan datang di Lanud Iswahjudi.
Sumber : TNI AU

China Miliki Lebih dari 40 Hangar Bawah Tanah


* Minsera.Blogspot.comHangar bawah tanah China
Salah satu jet tempur China Shenyang J-8 Finback yang ditarik masuk ke salah satu hangar bawah tanah
Korea Utara bukanlah satu-satunya negara di Asia Timur yang membangun fasilitas pangkalan/hangar bawah tanah. China juga memiliki hangar bawah tanah dengan jumlah yang fantastis, yaitu sekitar 40 atau lebih dan mungkin menjadi yang terbanyak di dunia. Kapasitas dari seluruh hangar bawah tanah China ini setidaknya bisa untuk "melindungi" 1.500 pesawat.

Pada tahun 2011, kapasitas 1.500 ini mewakili lebih dari jumlah pesawat tempur modern yang dioperasikan oleh China, yang berarti memberikan China kemampuan untuk melindungi aset terbaiknya dalam setiap konflik besar di mana pesawat lawan akan berusaha untuk menyerang pangkalan udara China. 

China memulai pembangunan 40 atau lebih hangar bawah tanah ini pada tahun 1950 (kemungkinan dengan bantuan ilmuwan Uni Soviet). Disinilah China banyak menyimpan armada-armada terbarunya, meskipun beberapa diantara pangkalan ini tidak lagi difungsikan sebagai fasilitas militer dan dibuat sebagai museum yang dibuka untuk umum.

Tentu saja pesawat-pesawat yang disimpan tersebut tidak langsung terbang ketika sudah keluar dari pintu hangar. Untuk lepas landas dan mendarat, masih dilakukan seperti biasa yaitu harus keluar dulu dari hangar. Pangkalan semacam ini lebih sebagai area penyimpanan, pemeliharaan, stok bahan bakar, amunisi, dan pemeliharaan dan perbaikan semua peralatan di lapangan terbang. Untuk ukuran pintu masuknya pun beragam, mulai dari belasan meter hingga 40-an meter. Pesawat tempur modern umumnya sudah memiliki sayap lipat, jadi pintu hangar yang belasan meter sudah cukup untuk dilaluinya.

Keberadaan hangar-hangar bawah tanah ini tentu akan menyulitkan bagi siapa pun untuk menghancurkan pesawat-pesawat China yang tidak sedang terbang. Landasan pacu dan fasilitas lapangan terbang lainnya memang bisa rusak/hancur karena serangan dari udara, namun teknisi lapangan udara berikut peralatan perbaikannya dari dalam hangar akan dengan cepat memperbaiki kerusakan tersebut.

Hangar bawah tanah China

Infrastruktur bawah tanah semacam ini memang terbukti sangat survivable saat Perang Dunia II, kala itu Jerman membangun sejumlah lini produksi bawah tanah untuk bahan kritis rudal balistik dan pesawat tempur. Fasilitas ini terbukti sangat tahan terhadap pemboman yang menggunakan amunisi terarah standar.

Untuk alasan inilah Amerika Serikat dan beberapa negara lain seperti Inggris mengembangkan sejumlah bom tanah yang bisa menembus fasilitas bawah tanah, biasanya bom semacam dijuluki dengan "bunker buster" atau juga "earthquake (gempa)" . Bom "bunker buster" selama ini hanya sering dikaitkan dengan fasilitas-fasilitas bawah tanah milik Iran, namun sesungguhnya Korea Utara dan China memiliki fasilitas militer bawah tanah yang jauh lebih dalam dari permukaan tanah. Hingga kini AS terus mengembangkan bom penetrasi tanah dan terus berupaya memperoleh data baru mengenai pembangunan fasilitas-fasilitas bawah tanah China.

Pintu hangar bawah tanah China

Basis-basis bawah tanah seperti ini tentunya akan memberikan perlindungan yang baik dari serangan-serangan mendadak skala besar, sekaligus memberikan China keunggulan dalam perang yang lama. Kalau AS biasa meggunakan pangkalan udara bisaa (tidak bawah tanah) dan tidak semua pesawat juga berada di situ. China juga banyak memproduksi rudal balistik yang membawa hulu ledak seberat setengah ton dengan rentang 300-700 kilometer. Ada hampir 2.000 rudal jenis ini yang kapanpun bisa menghantam lapangan-lapangan udara negara-negara tetangga. Rudal-rudal ini mudah dimobilisasi dan juga memiliki tempat penyimpanan di bawah tanah. Banyaknya tempat-tempat penampungan bawah tanah seperti ini jelas telah meningkatkan kemampuan kekuatan udara China.

Monday, 20 May 2013

Menanti Proyek Tank Nasional

Tank ACV SW turret BMP 3
Tank ACV SW turret BMP 3


* Minsera.Blogspot.com * Pemerintah Indonesia dan Turki akhirnya menandatangani nota kesepahaman pembuatan light/medium tank yang dikerjakan oleh FNSS Defense System Turki dan PT Pindad Indonesia. Penandatangan kerja sama ini dilakukan di Istanbul, Turki, saat berlangsungnya Internasional Defense Industri Fair (IDEF) ke-11, Mei 2013.

Menurut Asisten Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Kerjasama, Silmy Karim, pihak Turki siap bekerjasama dari proses desain hingga tahap produksi. “Keduanya bekerja sama dalam waktu tiga hingga lima tahun. Tahun ini diusahakan grand design tank selesai, sehingga tahun depan bisa dibuat prototipenya,” ujar Silmy Karim.

Kerja sama PT Pindad dengan FNSS Turki merupakan tindak lanjut kesepakatan kerja sama saat kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Turki, Juni tahun 2010. Kesepakatan tersebut dimatangkan kembali  saat Presiden Turki Abdullah Gul melakukan kunjungan balasan ke Jakarta, April 2011.

FNSS Turki bahkan telah mengirimkan prototipe tank ringan ACV 300 untuk dijajal oleh TNI AD dan dipelajari PT Pindad.

FNSS Defence System Turki

FNSS Defense System merupakan pembuat  armoured personnel carrier (APC) PARS  roda 6 x 6 dan 8 x 8 berkemampuan amphibi dengan bobot 16 – 24 ton. FNSS juga pembuat  infantry fighting vehicle IFV ACV 300 (tracked) berbobot 14 ton, turunan M113 USA.

ACV 300 juga memiliki varian baru yakni ACV S yang lebih panjang (Stretched) dengan penggerak rantai 6 roda, sementara ACV 300 rantai 5 roda.

Sebelum bekerjasama dengan Indonesia, FNSS Turki telah bekerjasama dengan Malaysia dalam membuat DEFTECH atau AV-8, yang merupakan pengembangan dari PARS 8×8 Turki. Selain itu Malaysia juga bekerjasama  dengan FNSS membuat  ACV- Adnan berdasarkan ACV 300 Turki.

FNSS PARS 8X*
FNSS PARS 8X8
ACV S (Stretched) varian baru
ACV S (Stretched) varian baru
ACV 300 Adnan Anti-Tank Missile Malaysia
ACV 300 Adnan Anti-Tank Missile Malaysia
Tank seperti apa  yang dibuat PT Pindad bersama FNSS ?.

Sejarah tank Indonesia bisa dilacak dari pengadaan Tank Scorpion TNI AD. Scorpion dibuat Inggris sebagai Combat Vehicle Reconnaissanc, namun tank pengintai ini dimodifikasi Indonesia dengan memasang canon 90 dan 105 mm Belgia.

Begitu pula dengan AMX 13 merupakan light tank, namun mengusung canon: 75mm, 90 mm hingga 105 mm. TNI AD memiliki  sekitar 300 AMX 13 versi canon.

Dari dua jenis itu, bisa dikatakan Kavaleri Indonesia menyukai tank model light/medium, namun memiliki ukuran canon yang besar. Tank model ini dianggap cocok untuk medan pertempuran yang berbukit dan berlembah.

Keinginan Indonesia untuk membuat tank/panser dilengkapi canon, sempat dicoba dengan Korea Selatan dengan memesan 22 Panser Tarantula / Black Fox yang akan dipasang canon CT-CV turret 105mm atau CSE 90 mm Belgia. Turret ini sudah dipesan ke Belgia,  namun entah mengapa, proyek Panser Canon Tarantula itu, tidak terdengar lagi.

Indonesia juga sempat membangun protoype panser canon 90mm, namun hingga kini tidak juga diproduksi. Diduga mesin Anoa yang terletak di tengah, membuat pemasangan turret menjadi bermasalah, termasuk tata letak kru di dalamnya. Hal ini semakin jelas, ketika pihak Kementerian Pertahanan yang berkunjung ke Istanbul mengatakan, tank yang akan dibuat PT Pindad dan FNSS Turki, akan menempatkan mesin di depan, sekaligus untuk meningkatkan proteksi.

Karena Indonesia telah memiliki Anoa 6×6 (berpenggerak roda) yang fungsinya hampir sama denga FNSS PARS, maka kerjasama PT Pindad diduga akan tertuju kepada model ACV 300 yang dipasang turret.

Tank ringan yang akan diproduksi bersama Indonesia dan Turki akan memiliki tingkat kandungan dalam negeri yang cukup besar. Setidaknya hull/ body, instalasi dan perakitan akan menjadi porsi Indonesia. Sementara engine serta rantai tank  dibuat oleh FNSS  Turki.

Turki sendiri telah memamerkan varian terbaru dari ACV 300, yakni ACV SW (Stretched) yang dipasang turret BMP 3, buatan Instrument Design Bureau (KBP) Tula, Russia.Turret BMP 3 ini dilengkapi canon 100 mm serta autocannon 2A72 30 mm. Canon BMP 3 bisa menembakkan peluru konvensional HE-FRAG atau ATGM 9M117 (AT-10 Stabber).

Bisa jadi model Tank Nasional yang dibuat FNSS  Defence System Turki bersama PT Pindad, adalah ACV SW (rantai 6 roda).  “Indonesia melalui PT Pindad diharapkan mampu menyerap teknologi tank milik Turki dan nantinya mampu membuat sendiri”, ujar Silmy Karim.
Tank ACV-S dengan turret BMP 3
Tank ACV-S dengan turret BMP 3
ACV 300 BMP-3_turret

Model Varian ACV Canon
Varian LAIN ACV Canon

Opsi lain adalah hull ACV S namun menggunakan turet CT-CV Weapon System buatan CMI Defence, Belgia. Turret Cockerill CT-CV 105HP ini mengusung: canon 105 mm, senjata mesin pintle-mounted 7.62 atau 12,7 mm serta granat launcher. Selain menembakkan peluru manual, turret Cockerill CT-CV 105 HP  juga bisa menembakkan ATGM Falarick 105. Turret ini memang di-disain untuk light tank.

Cockerill CT-CV 105HP Turret
Cockerill CT-CV 105HP Turret
Cockerill CT-CV 105HP Turret
Turret Cockerill CT-CV 105HP

CT-CV dengan rudal Falarick
CT-CV dengan rudal Falarick

Perbandingan turret Cockerill 90 mm
Perbandingan turret Cockerill 90 mm

Turret Cockerill CT-CV 105 HP dipercaya Polandia untuk  tank multirole Anders. Tank Anders mengusung mesin turbocharged diesel dengan tenaga 720hp dibangun Polandia tahun 2010 untuk menggantikan BMP-1 Angkatan Darat mereka. Produksi massal tank Anders diperkirakan mulai tahun 2015 dengan jumlah 700 tank.

Tank ini diciptakan dalam berbagai varian dan modul: Reconnaissance vehicle, infantry fighting vehicle (IFV), armoured recovery vehicle (ARV), fire support vehicle (FSV) or light tank, engineering reconnaissance and support vehicle, anti-aircraft artillery vehicle, self-propelled 155mm howitzer, medical evacuation vehicle, rocket launcher and radar carrier.

Berat basic  IFV Anders 20 ton dan berkembang menjadi 33 ton jika mengusung turret canon 105 mm. Bisa digeber 72 km/jam dengan jarak jelajah 600km.

Light Tank Anders 105 mm
Tank Anders CT CV turet 105 mm

Prototype Ligh Tank Anders
Prototype Tank Anders turret CMI Belgia
Konsep Tank Anders
Konsep Tank Anders

Anders Varian 3 Kru dan 4 Personil
Anders Varian 3 Kru dan 4 Personil
Kalau tidak mau susah, kemungkinan PT Pindad dan FNSS akan mengembangkan tank model ACV SW dipasang turret BMP 3 Rusia. Kalau jalur yang lebih rumit dan mau bereksperimen, model tank yang akan dibuat ACV SW Turki dengan Canon CT-CV 105 HP Belgia. Indonesia telah mengenal model canon CMI Defence ini dan juga memiliki hubungan baik.

Tank Marder

PT Pindad sebelumnya sempat menyatakan juga akan membuat tank medium, dengan hull model IFV Marder Jerman. Marder merupakan tank medium dengan bobot dua kali lipat dari ACV 300 Turki, yakni 30 ton.

Indonesia memang membeli 50 IFV Marder dari Jerman. Namun perusahaan Rheinmetall Jerman tidak akan begitu saja menyerahkan teknologi Tank Merder dengan turret dengan turret Oto Melara Hitfact 120mm, karena dagangan baru dari Rheinmetall.  Tank Marder bisa menjadi langkah berikutnya jika PT Pindad telah menguasai teknologi light tank ACV SW Turki.

Marder turret Oto Melara Hitfact 120mm
Marder turret Oto Melara Hitfact 120mm

Hal yang sama juga dilakukan oleh Turki. Setelah mampu membuat IFV/ Light Tank ACV SW, kini mereka membangun main battle tank (MBT) Altay berbobot 60 ton, yang prototype-nya ditargetkan selesai tahun 2015 dan memasuki produksi massal tahun 2017.  Otokar Group Turki belajar membuat MBT Altay atas asistensi Hyundai Rotem, Korea Selatan.
Sumber : JKGR

Friday, 17 May 2013

PARLEMEN KORSEL OPTIMISTIS KF/IF-X PROJECT JALAN TERUS


* Minsera.Blogspot.com * Wakil Ketua DPR Korea Selatan, Park Byeong-seug, mengaku optimistis proyek kerja sama pembuatan pesawat tempur canggih Korean Fighter Xperiment (KFX), akan kembali berjalan setelah sebelumnya ditunda.

Hal itu bisa terjadi karena kerjasama yang terjalin antara parlemen Indonesia dengan Korsel semakin mendalam sehingga mempermudah proses komunikasi di antara kedua belah pihak. "Kami meyakini dengan komunikasi yang lebih lancar di antara kedua pihak akan menyelesaikan semua masalah yang tengah dialami," ujar Byeong-seug. 

Ditemui usai menghadiri seminar bertajuk Indonesia-Korea Forum 2013: enhancing the Korea-Indonesia Middle Power Partnership, Byeong-seug yakin dengan semakin dekatnya hubungan kedua negara, maka akan mempercepat titik temu untuk solusi berbagai masalah, termasuk proyek pesawat jet tempur tersebut. 

Dia juga meminta bantuan media massa untuk terlibat dalam proses penyelesaian masalah yang dialami Korsel dengan Indonesia. "Karena hal ini tentunya untuk kebaikan Indonesia sendiri," ujar Byeong-seug. 

Sebelumnya Indonesia dan Korea Selatan telah menyepakati pengembangan bersama pesawat tempur KF-X pada 15 Juli 2010 silam di ibukota Seoul. Pesawat jet tempur KF-X sebetulnya merupakan proyek lama "Republic of Korea Air Force" (ROKAF) yang baru bisa terlaksana sekarang. 

Proyek ini sudah digagas Presiden Korea Kim Dae Jung pada Maret 2001, untuk menggantikan pesawat-pesawat yang sudah tua seperti F-4D/E Phantom II dan F-5E/F Tiger. Dibandingkan F-16, KF-X diproyeksi memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistem "avionic" yang lebih baik serta kemampuan anti-radar .

Dalam kesepakatan itu, kedua pihak menyepakati 80 persen pembiayaan ditanggung negara mitra dan 20 persen ditanggung Indonesia. Kerja sama pengembangan pesawat tempur generasi 4.5 itu dilakukan dalam tiga tahapan, yakni pengembangan teknologi sepanjang 2011-2012, tahap engineering dan manufacturing dan tahap ketiga adalah produksi. 

Penundaan tiba-tiba terjadi di tahap kedua  karena Parlemen Korea belum menyetujui anggaran untuk tahap Engineering and Manufacturing Development Phase (EMD Phase) Program. Padahal Indonesia sudah mengeluarkan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk proyek tersebut.
Sumber : Vivanews

TIDAK SESUAI SPEC, TNI AU TOLAK HIBAH PESAWAT F-5 KOREA SELATAN


* Minsera.Blogsot.comTNI Angkatan Udara menyatakan menolak tawaran hibah pesawat tempur F-5 Tiger dari Korea Selatan lantaran tidak sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. 

"Kami menolak tawaran hibah karena spesifikasi pesawat F-5 milik Korea Selatan berbeda dengan yang dimiliki Indonesia," kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, usai menghadiri penutupan Sidang Umum dan Kongres Dewan Olahraga Militer Internasional atau Conseile International du Sport Militaire (CISM) Ke-68, di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pesawat F-5 milik Indonesia sudah banyak dimodifikasi, baik persenjataan atau avioniknya. Sedangkan, pesawat yang ditawarkan Korea Selatan minim modifikasi. "Perbedaan spesifikasi ini justru menjadi beban di biaya perawatannya. Kalau bisa kami diberi pesawat yang sama dengan yang kami punya," katanya.

KSAU mengaku, pihaknya telah menyampaikan kajian itu kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan).

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro mengaku masih mempertimbangkan tawaran hibah pesawat F-5 dari pemerintah Korea Selatan karena harus meminta keputusan dari TNI AU selaku pengguna pesawat tempur.
DPR Dukung TNI AU Tolak F-5 Korea Selatan

Anggota Komisi Pertahanan DPR, Mayor Jenderal Purnawirawan Yahya Sacawiria, mendukung penolakan TNI AU terhadap hibah pesawat F5 Korea Selatan. "Sebab, yang tahu detil spesifikasi pesawat itu kan TNI AU," ujarnya, Kamis, 16 Mei 2013.

Menurut dia, TNI AU memang memiliki hak untuk menerima atau menolak tawaran pesawat dari Kementerian Pertahanan. Sebab, "TNI AU yang bakal mengoperasikan pesawat itu," katanya.

Ia meminta pemerintah tidak memaksa TNI AU untuk menerima hibah pesawat tersebut. Jika dipaksakan justru bisa merugikan. "Sebab, bakal jadi beban buat TNI AU yang sebelumnya menyatakan keberatan merawat pesawat itu," kata politikus Partai Demokrat itu.

Karena itu, katanya, Komisi I DPR RI mendukung sikap TNI AU. "Keputusan KSAU ini kami (Komisi I) dukung."

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan menerima tawaran hibah pesawat F5 langsung dari pemerintah Korea Selatan. Purnomo mengaku sedang mempertimbangkan tawaran ini. Salah satu pertimbangan itu, yakni meminta keputusan dari TNI AU selaku pengguna pesawat tempur. Namun, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia menolak tawaran tersebut. Dia beralasan ada perbedaan spesifikasi pesawat F5 milik Korea Selatan dengan Indonesia. Perbedaan itu berpotensi jadi beban dalam biaya pembiayaan.
Sumber : Republika

Menagakuisisi Tank Leopard meningkatkan Daya Tawar Indonesia di kancah Internasional


* Minsera.Blogspot.comPakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah, mengatakan, kesediaan Jerman menjual tankLeopard kepada Indonesia meningkatkan daya tawar Indonesia secara global, sekaligus membuka kesempatan kerja sama dengan berbagai alternatif kemitraan lebih menguntungkan.

"Itu menunjukkan posisi tawar Indonesia, sekaligus memperluas sumber pembelian persenjataan mutakhir," kata Rezasyah, di Jakarta, Rabu.

Pekan lalu, Kanselir Jerman, Angela Merkel, telah memberikan lampu hijau bagi produsen senjata Rheinmetall AG di Duesseldorf, Jerman untuk menjual 104 tank Leopard 2A4 termasuk versi evakuasi dan jembatan bergerak, dan panser angkut personel militer ke Indonesia.

Secara keseluruhan, Jerman pada pekan lalu setuju menjual 164 tank kepada Indonesia.

"Ke depan, akan memudahkan kita mengajukan opsi seperti imbal beli, kerja sama riset dan pengembangan, termasuk mekanisme pelayanan purna jual, dan keterlibatan industri strategis," katanya.

Lebih lanjut, kata dia, kemitraan ini juga harus dimanfaatkan baik dengan berbagai inisiatif dari pemerintah seperti adanya alih teknologi yang melibatkan perusahaan nasional.

"Ini bisa dipadukan dengan alih teknologi melibatkan industri strategis Indonesia, di antaranya PT Pindad," katanya.


Sumber : Antara

2 Unit Su-30MK2 Arrive at Squadron 11 Hassanudin Makassar



* Minsera.Blogspot.com * Kabar gembira kembali tersemat di seluruh rakyat Indonesia dengan kedatangan 2 unit SU-30MK2 di Lanud Skuadron 11 Makasar tadi malam 16/5/2013, sehingga total keluarga Flanker di armada TNI AU menjadu 14 unit, dan bulan Juni akan datang lagi 2 unit untuk pesanan terakhir dari total 6 unit yg dipesan tahun lalu Jadi smua akan membentuk 1 skuadron heavy fighter 16 unit..Semoga menjadi tumpuan kekuatan udara NKRI.(MS)


Seperti sudah dijanjikan sebelumnya, ARC akan mempersembahkan detik-detik kedatangan 2 buah pesawat Su-30MK2 di Makassar. Dan inilah dia...! Namun kami mohon maaf, karena yang kami tampilkan bukanlah foto, melainkan video.

 

Dengan video, anda bisa menyaksikan secara jelas proses penurunan jet tempur kebanggaan TNI-AU tersebut. Dengan kedatangan 2 pesawat ini, total sudah ada 14 buah jet Sukhoi mengisi skadron udara 11 di Lanud Hasanuddin Makassar. 2 pesawat tambahan akan tiba diperkirakan pada bulan Juni. psssttt... dalam waktu dekat, persenjataan untuk sukhoi juga akan tiba.
Sumber : ARC